15 Nopember Tepian Mahakam Membara, Pekik Merdeka dari Samarinda

Peristiwa besar 10 Nopember 1945 di Surabaya dengan tokoh ikonik Bung Tomo memang turut menggelorakan semangat perjuangan di daerah lainnya.

Semua anak bangsa bertekad mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan sekitar empat bulan sebelumnya.

Berselang setahun sejak pertempuran di Kota Pahlawan itu, spirit yang sama berkobar di Samarinda, Kalimantan Timur.

Kisah heroik pada 15 Nopember 1946 ini rupanya luput dari catatan sejarah nasional.

Tak pernah terdengar dan seolah terabaikan.

Para pejuang kemerdekaan yang terdiri dari JF Sitohang dibantu Nyonya Soewito, Anang, Filip, Inem Adam, Filipus dan Bakran membakar gudang Nigeo milik Belanda.

Bangunan Nederlands Indische GovernementImport En Export Organisatie itu berada di tepi Sungai Mahakam.

Di dalam gudang tersebut dipenuhi hasil hutan yang siap untuk diekspor.

Saat ini lokasinya merupakan Jalan Yos Soedarso, salah satu kawasan pusat perniagaan di Kota Samarinda.

Akibat aksi sabotase berani tersebut, sejumlah gerilyawan akhirnya ditangkap pihak Kolonial.

“Bisa dikatakan ini awal perlawanan pertama yang dilakukan di Samarinda. Walaupun saat itu Belanda masih tangguh, dan saat itu dikabarkan hanya kebakaran biasa saja,” jelas penulis buku Samarinda Tempo Doeloe, Muhammad Sarip.

Insiden ini memang sebelumnya telah direncanakan.

Tentu untuk memberikan efek kejut terhadap Belanda dan menegaskan bahwa inilah perlawanan rakyat di Samarinda yang menjadi bagian dari perjuangan bangsa Indonesia di Tanah Borneo (Kalimantan).

Sebagaimana di Sangasanga, Balikpapan, Samboja, Banjarmasin, hingga ujung pulau, Tarakan.

Pertempuran di Tarakan. (foto: kokiers.com)

Beberapa hari sebelumnya, sejumlah tokoh Gerakan Rakyat Kutai (GRK) bertemu di Tenggarong.

Salah satunya JF Sitohang yang memimpin wilayah Mahakam Tengah meliputi Tenggarong dan Samarinda.

“JF Sitohang menjelaskan akan ada aksi di Samarinda,” tutur Hamdani, penyusun Bunga Rampai Perjuangan Pergerakan Rakyat Kalimantan Timur.

Kini, sudah puluhan tahun berlalu.

Kota Samarinda telah berkembang pesat.

Penghuninya pun kian membludak.

Semangat para pejuang sepatutnya menjadi inspirasi bagi segenap warga Kota Tepian.

Melanjutkan perjuangan mereka dengan mengisi kemerdekaan.

Bahu membahu bersama membangun negeri.

Bagaimana menurut Anda? Tulis pendapatmu di kolom komentar

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *