Bu Denok, Sang Penggerak 007

Dunia pendidikan di Tanah Air dalam beberapa tahun terakhir terasa bergerak sangat dinamis.

Pergerakan ini tak lepas dari sejumlah inovasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di bawah komando Nadiem Makarim.

Diawali dari Merdeka Belajar, selanjutnya publik dikenalkan dengan istilah Kampus Merdeka, Organisasi Penggerak, Guru Penggerak, Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Survei Karakter, serta yang teranyar adalah Sekolah Penggerak.

Untuk program yang paling baru ini, eks bos Gojek yang akrab disapa “Mas Menteri” tersebut berharap Sekolah Penggerak dapat mempercepat peningkatan mutu pendidikan di daerah.

Di Provinsi Kalimantan Timur, terdapat dua daerah yang menjadi lokasi pelaksanaannya yakni Kota Samarinda dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).

Khusus di Kota Tepain, Dinas Pendidikan Kota Samarinda telah menetapkan 22 sekolah sebagai pelaksana Sekolah Penggerak, terdiri dari 5 TK, 10 SD dan 7 SMP.

Salah satu sekolah dasar yang terpilih adalah SDN 007 Sungai Pinang.

Lembaga pendidikan yang beralamat di Jalan Ahmad Yani ini memang dikenal ‘tak bisa diam’, bahkan saat masa pandemi Covid-19 ini.

Kami memang ingin terus bergerak ke arah yang lebih baik, selagi kita sehat dan diberi umur,” ungkap Kepala SDN 007, Denok Asmiati MPd.

Ucapan bijak pendidik berhijab ini bukanlah sebatas retorika.

Medio Maret tadi, ia sukses menggelar Workshop Guru Membatik yang langsung dihadiri Wali Kota Andi Harun.

Hasilnya, mimpi Bu Denok menjadikan SDN 007 sebagai sekolah kebudayaan lokal, diamini mantan Wakil Ketua DPRD Kaltim tersebut.

Andi Harun saat itu juga memerintahkan Bappeda untuk mewujudkannya pada 2022 mendatang.

Tak hanya sampai di situ, beberapa hari kemudian, Denok dan lima muridnya yang tampil menari di pembukaan wokshop, diundang ke kamar kerja Wali Kota.

Pulangnya, senyum kelima bocah itu kian melebar lantaran isi sakunya jadi tebal.

Iya, benar-benar di luar ekspektasi kami, begitu besar respon Pak Wali,” ujar Denok.

Kini, dengan menyandang status Sekolah Penggerak, motivasinya makin berlipat.

Terlebih sebelumnya ia harus melewati seleksi dan tahapan tes yang menguras waktu, pikiran, serta tenaga.

Karena saya yakin program pemerintah itu pasti baik, jadi saya putuskan untuk mendaftar,” tutur Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Sungai Pinang ini.

Ia pun sempat diliputi dilema, memilih antara prestise pribadi ataukah maslahat bagi sekolah.

Walaupun kemudian saya mendapat tawaran sebagai instruktur program Sekolah Penggerak,” imbuhnya.

Denok berprinsip, niat baik memang tak selamanya dipandang baik oleh orang lain.

Tapi kita harus terus berusaha berbuat baik, selagi kita masih diberi kesempatan dalam hidup ini,” pesannya.

You may also like...

Sampaikan komentar terbaik Anda