GURAT JUM’AT – Pemimpin Bermuka Masam, Rasul pun Pernah Ditegur Allah

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang padanya.

Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia ingin mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat baginya.

Adapun orang-orang yang merasa dirinya serba cukup (elit-elit Quraisy), maka kamu melayaninya. (QS. 80: 1-6).

Suatu hari, Nabi Muhammad mengadakan pertemuan dengan para elit Quraisy.

Di tengah rapat tersebut, datang seseorang bernama Ibnu Ummi Maktum yang buta matanya.

Ia ingin bertemu Rasulullah.

Nabi mendengar dan tahu, tapi ia tidak menggubrisnya dengan wajah menyiratkan ketidaksenangan.

Beliau lebih konsen menghadapi elit-elit Quraisy itu.

Namun kemudian turunlah Surah ‘Abasa ini hingga Nabi bergegas menemui Ibnu Ummi Maktum.

Nabi Muhammad memang sosok pemimpin pilihan.

Ketika sadar dari khilaf, beliau langsung memperbaiki tanpa menunggu waktu lama.

Sekarang banyak pemimpin bermuka masam.

Mereka hanya ‘sadar’ saat ingin meraih simpati.

Jika tujuan tercapai, wajah masam perlahan kembali.

Di depan publik mengulas senyum, di belakang menyeringai.

Sebutan ‘masam’ tidak selalu bermakna harfiah di fisik wajah.

Mungkin banyak di antara kita yang pernah kecewa.

Dulu si pemimpin tak jarang menyapa, kini SMS pun cuma dibaca.

Jangankan berjumpa, bertanya pun lupa.

Sibuk, ya kata lima huruf ini sering jadi alasan.

Tapi bukankah itu konsekuensi melayani rakyat.

Jika tak mau sibuk sebaiknya mundur.

Atau ada pula yang dikritik malah balik menghardik.

Seorang pemimpin sudah semesti terbuka menerima kritik.

Pemimpin sejati berlapang dada dan sabar menerima hujatan, bukan malah menyakiti.

Kendati apapun alasannya semisal ingin memberi pelajaran.

Saat didera masalah justru menyalahkan staf dan gusar.

Tipikal pribadi yang hanya ingin menikmati manisnya nangka tanpa mau kena getahnya.

Seolah tak mendengar rintihan orang-orang di bawahnya, pembantunya, pelayannya, rakyatnya.

Sungguh, Surah ‘Abasa tentu bukan hanya teguran untuk Rasulullah semata.

Tapi dibaca dan diamalkan segenap umatnya.

Semoga menjadi pengingat para pemimpin kita.

(mansyah@hariankaltim.com)

Bagaimana menurut Anda? Tulis pendapatmu di kolom komentar

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *