JELANG RAMADHAN – Sembako di Kaltim Mahal, Pusat Minta Pemda Turunkan Harga

Stok sembako di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, dipastikan masih aman hingga beberapa bulan ke depan.

Artinya, dalam menghadapi bulan Ramadhan dan lebaran Idul Fitri nanti, masyarakat tak perlu khawatir.

Hanya saja, harga sembako saat ini masih cukup mahal.

Makanya, pemerintah daerah diminta segera melakukan upaya untuk menurunkan harga.

Permintaan ini disampaikan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan saat kunjungan kerja memantau harga sembako di Samarinda, Selasa (25/04/2017).

Tapi saya lihat tadi harga masih tinggi, maka saya minta pemerintah daerah bertindak agar harga bisa diturunkan,” ujar Nurwan dilansir Antara.

Ia meminta masyarakat tidak memborong bahan makanan jelang Ramadhan dengan alasan takut kehabisan stok.

Sebab tindakan itu justru bisa membuat harga sembako bertambah mahal.

“Masyarakat tidak perlu cemas dan memborong bahan pokok, karena berdasarkan pemantauan ke sejumlah lokasi tadi, semua stok aman hingga beberapa bulan ke depan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Divre Bulog Kaltim dan Kaltara, Bubun Subroto menjelaskan, stok beras di Bulog Samarinda mencapai 7.000 ton.

Jumlah itu akan bertambah lagi 3 ribu ton yang masih dalam proses pengiriman.

Stok ini mampu mencukupi kebutuhan hingga delapan bulan ke depan.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam menghadapi bulan Ramadhan bulan depan, karena stok beras untuk wilayah Kaltim cukup hingga delapan bulan,” katanya.

RASKIN

Subroto mengatakan, stok program raskin (beras untuk rakyat miskin) juga tersedia dengan harga tertinggi di masyarakat Rp9.500 per kilogram.

Selain beras, stok gula mencapai 274 ton untuk mencukupi permintaan selama Ramadhan hingga Hari Raya Idul Fitri.

Dalam sidak ke pasar dan Bulog tersebut, hadir pula Wakil Wali Kota Samarinda, Nusyirwan Ismail, dan sejumlah pejabat terkait lainnya.

Dalam pemantauan aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Peti Kemas Palaran, Nusyirwan menyinggung soal Operasi Tangkap Tangan (OTT) dari Saber Pungli.

“Memang setelah adanya OTT, kini biaya operasional di pelabuhan terjadi penurunan 6-10 persen, tapi saya belum berani mengemukakan dampak penurunan harga di pasar setelah ini karena belum dilakukan kajian,” kata Nusyirwan menjawab pertanyaan wartawan. (*)

Bagaimana menurut Anda? Tulis pendapatmu di kolom komentar

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *