Jurnalis Kaltim Pelopori Pembentukan Gerakan Masyarakat Anti Hoax

Dialog media cerdas tanpa hoax yang digelar kalangan wartawan tergabung dalam Jurnalist Centre, di Ruang WIEK Kantor Diskominfo Kaltim, Rabu (18/01/2016), menghasilkan satu rekomendasi penting. Salah satunya jurnalis Kaltim mempelopori pembentukan gerakan masyarakat anti hoax.

“Kondisinya hoax sudah mengkhawatirkan. Levelnya menyentuh segala kalangan dan lapisan masyarakat. Makanya kita harus segera bersikap melakukan tindakanya nyata sebagai bentuk antisipasi,” kata Charles Siahaan yang didaulat sebagai Koordinator Gerakan Masyarakat Anti Hoax di sela Dialog Media Cerdas Tanpa Hoax tersebut.

Charles menilai ini kegiatan nyata dan penting dilakukan kalangan jurnalis. Sebab jurnalis merupakan insan yang berperan mencerdakan masyarakat melalui pemberitaan akurat melawan berita hoax yang dianggap informasi tidak akurat.

UNDANG GROUP FB

Tindak lanjutnya, komunitas ini akan mengumpulkan segenap jurnalis di Kaltim untuk menjelaskan ke masyarakat apa itu hoax. Membuat selebaran berisikan informasi mengenai penjelasan tentang berita hoax.

“Selain itu, kita akan mengundang pengelola administrasi group-group facebook dan berbagai sosial media berkembang lainnya membicarakan ini. Mengajak anggota yang tergabung di dalamnya untuk “menahan jempol” atau tidak memberi like dan menyebarkan tautan berita hoax,” sebutnya.

Intinya, kata dia, Kaltim harus diselamatkan dari berita hoax. Karenanya pihaknya menyambut baik didaulat sebagai koordinator masyarakat anti hoax maupun gerakan jurnalis anti hoax.

Termasuk mengapresiasi Diskominfo Kaltim yang sudah memfasilitasi penyelenggaraan diskusi tersebut. Hingga akhirnya merekomendasikan pembentukan komunitas gerakan masyarakat anti hoax.

Di sisi lain, ia menyebut berita hoax merupakan informasi tidak akurat yang disebarluaskan tanpa konfirmasi atau tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Informasi tidak jadi berita hoax jika dalam penyampaian informasi disebutkan belum konfirmasi dan tindak lanjutnya dilakukan pemberitaan lebih lanjut yang akurat.

Sependapat dengan itu, Intoniswan salah satu peserta dialog, menyebut jurnalis merupakan profesi mulia penyebar informasi benar. Karena jurnalis harus mampu membuat berita secara akurat agar tidak dianggap sebagai wartawan hoax.

“Masalah hoax harus disikapi karena menjadi dera wartawan. Berita hoax lambat laun bisa menyerempet wartawan karena masyarakat belum bisa membedakan informasi yang disebarkan masyarakat umum dengan karya jurnalistik,” sebutnya.

Berkenaan itu, ia menyarankan jurnalis membuat batasan atau perbedaan jelas agar produk jurnalis berbeda dengan produk non jurnalistik. “Mulai dari tampilan konten hingga produk harus berbeda sebagai bentuk benteng jurnalis melaksanakan tugas sesuai kaedah dan prinsip jurnalistik serta pegang teguh kode etik,” katanya.

Khusus untuk gerakan masyarakat anti hoax, ia menyarankan segera membuat rencana aksi berupa pembagian brosur dan stiker berisikan pesan antisipasi penyebarluasan berita hoax. Seperti diketahui, kalangan jurnalis yang tergabung dalam Jurnalist Centre menggelar dialog didasari rasa keprihatinan melihat kondisi penyebaran berita hoax yang sangat menghawatirkan. Jurnalis Kaltim ingin meningkatkan peran mencerdaskan masyarakat dengan pemberitaan benar melalui media massa konvensional. (diskominfo)

Bagaimana menurut Anda? Tulis pendapatmu di kolom komentar

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *