Membenahi Drainase Bengkuring, Ikhtiar Meminimalisir Banjir Saban Tahun (Bagian 1)

Banjir memang telah menjadi momok bagi warga Kota Samarinda sejak bertahun-tahun lalu.

Sejumlah daerah langganan banjir tersebar di ‘kampung besar’ yang dihuni sekitar 800 ribu jiwa lebih ini.

Dari ujung ke ujung.

Meluap di kawasan pusat kota, hingga menggenangi daerah pinggiran.

Tak pandang bulu.

Salah satu permukiman yang berulang kali merasakan banjir saban tahun yakni Perumnas Bengkuring, di Kelurahan Sempaja Timur, Kecamatan Samarinda Utara.

Kompleks hunian yang dulu dikenal sebagai perumahan eks warga relokasi bantaran Sungai Karang Mumus (SKM).

Tahun 2020 lalu, kami sampai lima kali kebanjiran,” ungkap Ketua RT 35 Bengkuring, Drs Syafrani MSi kepada HarianKaltim.com, Sabtu (03/04/2021).

Ketua RT 35 Bengkuring, Drs Syafrani MSi

Bahkan banjir terdalam terjadi saat beberapa hari jelang Lebaran hingga pada perayaan Hari Raya Idul Fitri.

Bukan hanya membekas di ingatan, tapi juga masih meninggalkan jejak di kediamannya yang berseberangan jalan dengan bagian belakang Pasar Bengkuring.

Pas hari-hari akhir bulan puasa, dalamnya sekitar satu meter, ini bekasnya,” ujarnya sambil menunjuk dinding luar rumahnya.

Beruntung tempat tinggalnya berlantai dua.

Ia memastikan sekitar 80 persen dari keseluruhan warganya terdampak saat banjir datang.

Dalam wilayah RT 35, jumlah penduduknya terdata sebanyak 616 jiwa dari 191 Kepala Keluarga (KK).

Banjir di Bengkuring pada 2020 lalu menggenangi areal Kantor Lurah Sempaja Timur. (Dok. Ketua RT 35)

Di awal 2021 yang memasuki bulan keempat ini, ia berharap banjir bisa berkurang.

Baik intensitas maupun ketinggian genangannya.

Tokoh masyarakat yang ramah inipun bersyukur pembenahan saluran air di Bengkuring kembali mendapat perhatian Pemerintah Kota.

Akhir tahun kemarin, dilakukan pembangunan drainase di jalan poros yang mengitari areal pasar, puskesmas, dan Kantor Lurah.

Hasilnya pun mulai terlihat ada secercah perubahan.

Awal Februari tadi, banjir menyusul guyuran hujan deras tak lagi setinggi biasanya.

Genangannya hanya hitungan centimeter.

Cuma calap-calap aja di jalan, itupun tidak lama,” tutur Syafrani.

Ucapan terima kasih pun tak lupa ia sampaikan kepada pemerintah.

Namun ia menyisipkan harapan besar agar pembenahan drainase ini dilanjutkan hingga ke akarnya.

Di bagian belakang blok tempat tinggalnya terdapat rawa-rawa yang cukup luas sampai ke bibir aliran SKM.

Saluran air yang tertutup tumbuhan rawa di wilayah RT 36 Bengkuring, perlu segera direhabilitasi

Ia mensinyalir ada sumbatan di areal semak belukar tersebut.

Di situ sebenarnya ada saluran air, tapi sudah lama tertutup tumbuhan rawa. Inilah yang membuat air terhambat menuju sungai,” ujarnya.

Jika jalur pembuangan air tersebut direhabilitasi, maka diyakini akan memberikan dampak positif yang signifikan.

Pandangan Syafrani diamini Ketua RT 37, Akhmad Yani.

Kalau dibangun permanen, kemungkinan besar genangan banjir akan bisa diminimalisir,” katanya.

Menurut dia, saluran air di rawa-rawa itu telah cukup lama tak tersentuh upaya pembersihan.

Dulu, konstruksinya masih bisa terlihat berupa turap berbahan material kayu ulin.

Kalau tidak salah, terakhir dikeruk sekitar tahun 2015. Tapi sekarang, kayu-kayunya juga sudah tidak ada lagi, kelihatannya hilang dicuri,” duganya.

Ketua RT 37 Bengkuring, Akhmad Yani menunjukkan bekas banjir yang terjadi tahun lalu di wilayahnya

Ia pun sangat mendukung jika saluran yang diperkirakannya sepanjang kurang lebih 300 meter itu harus segera dibenahi.

Andai aspirasi masyarakat Bengkuring ini bisa terwujud, tentunya fungsi drainase yang baru selesai dibangun di jalan poros akan menjadi lebih maksimal lagi.

Dengan demikian, segala upaya untuk mengurangi banjir menjadi ikhtiar yang aspiratif sekaligus komprehensif.

(mh/sos/bersambung)

You may also like...

Sampaikan komentar terbaik Anda