Menteri Sebut Upah Pekerja di Kaltim Tertinggi, BI Anggap Pertumbuhan Ekonomi Meningkat

Kementerian Ketenagakerjaan RI mencatat produktivitas tenaga kerja di Indonesia  mengalami peningkatan hingga 4,62 persen dalam lima tahun terakhir.

Pada 2015, upah tenaga kerja di sektor industri mencapai Rp78,18 juta per orang per tahun.

Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mengungkapkan, secara regional ada delapan provinsi yang produktivitas tenaga kerjanya di atas angka nasional.

Provinsi tersebut Kalimantan Timur, DKI Jakarta, Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, Riau, Papua Barat, Papua, dan Jambi.

“Ada delapan provinsi dengan tingkat produktivitas tertinggi secara regional termasuk Jakarta, Papua, dan Kalimantan Timur,” kata Hanif dalam penghargaan Paramakarya 2017 di Kementerian Ketenagakerjaan RI, Jakarta, Jumat, 8 Desember 2017.

Pada lapangan usaha, upah di sektor Real Estate merupakan tertinggi yaitu sebesar Rp927,17 juta per tenaga kerja per tahun. Sedangkan terendah terjadi di kategori lapangan usaha lainnya (kategori R, S, T, U) yakni sekitar Rp27 juta per tenaga kerja per tahun.

LAPORAN BI

Menurutnya peningkatan kualitas dunia usaha di sektor industri sangat diperlukan untuk pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal ini selaras dengan laporan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur yang tak minus lagi, sebagAimana dirilis Bank Indonesia (BI).

Kepala Tim Advisory Ekonomi dan Keuangan, Kantor Perwakilan BI Kaltim, Harry Aginta, mengatakan kini pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur tak lagi minus, bahkan pertumbuhannya membaik.

“Data triwulan ketiga tumbuh membaik. Jika tahun 2015 dan 2016 itu minus, 2017 sudah positif. Bahkan positifnya besar, 3,54 persen,” kata Harry di Samarinda, Jumat, 8 Desember 2017.

Keyakinan itu dia sampaikan karena BI Kaltim memprediksi pertumbuhan ekonomi pada triwulan keempat akan mencapai 3 persen. Angka itu diakui merupakan pertumbuhan yang baik.

Harry juga memaparkan faktor harga komoditas batu bara masih menjadi yang utama dalam pengaruh pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur. Adapun pengaruh sektor pertambangan secara menyeluruh mencapai 46 persen.

“Tapi, yang perlu dicatat, yang menggerakkan positif tadi masih harga komoditas, masih batu bara, jika kita hitung berdasarkan PDRB (produk domestik regional bruto),” ucap Harry.

Sebagai informasi, Harry menjelaskan, pertumbuhan ekonomi dihitung dari PDRB. PDRB merupakan hasil kali jumlah produksi (volume barang-barang yang diproduksi di Kalimantan Timur), dalam satuan tonase, dengan harga (price).

“Nah, ternyata kuantitas barang produksi yang kita hasilkan pada 2017 dengan 2016 itu sama, tapi harganya naik. Jadi meningkatlah PDRB-nya,” tutur Harry. “Itu tidak mencerminkan secara riil pertumbuhan ekonomi. Misalnya harga tetap, ya, tetap minus.”

You may also like...

Sampaikan komentar terbaik Anda