Tarmidi Riwayatmu Kini…

Era 80-an, Jalan Tarmidi, Samarinda, cukup dikenal sebagai ‘pusat perbelanjaan’ pakaian. Kala itu, di kiri kanan jalan berderet kios penjual busana, mulai dari celana, baju dan sepatu anak-anak, juga kebutuhan sandang orang dewasa.

Bahkan saat musim penerimaan murid baru tiba, jalan itu akan lebih ramai. Transaksi jual beli perlengkapan seragam sekolah bisa berlangsung sejak usai Maghrib hingga tengah malam. Terlebih saat malam Minggu.

Kini, jalan di tepi Sungai Karang Mumus itu berganti kekhasannya. Deretan penjual barang kerajinan rotan, dan pedagang aneka jenis burung seolah menjadi ‘trademark’ kawasan. Para pengusaha unggas itu sendiri sebenarnya telah lebih dulu hadir, bahkan mungkin ‘seangkatan’ kios-kios pakaian di era 80-an itu.

Jalan Tarmidi mungkin saja menyimpan histori nostalgia sebagian warga Samarinda. Tapi Tarmidi tetaplah harus dimaknai sebagai penghargaan terhadap pejuang Samarinda yang gugur saat melawan agresi penjajah, Belanda. Terlebih tak banyak pahlawan dari daerah ini yang dikenal secara luas.

Mengutip tulisan di blog www.alfiforever.com, dapat tergambar perjuangan Tarmidi.

Dan pada 6 Januari 1947, Pasukan Belanda secara tiba tiba melakukan penyerangan pada posisi posisi pejuang di Desa Sambutan dan kontak senjata terjadi dengan sengit, maklum pasukan Belanda menghadapi beberapa pejuang ex KNIL yang juga punya senjata dan dalam “battle” tersebut gugur seorang pejuang kita yang bernama Tarmidi (Itar), dan di pihak Belanda tidak diketahui, karena biasanya pasukan Belanda menutupi dengan kejadian sebenarnya, (Ini adalah pertempuran pertama dengan pihak Belanda di Samarinda)

tugu sambutanDan untuk mengenang jasa pahlawan, di Sambutan tepatnya di areal tertembaknya Tarmidi dibangun sebuah tugu, Letaknya pun nyaris tidak terlihat karena berada di areal pemukiman warga.

Dengan menggunakan perhitungan google maps, jarak dari Jalan Tarmidi menuju tugu tersebut diperkirakan sekitar 7,9 – 10 kilometer.

Namun sangat disayangkan monumen tersebut kurang perawatan dan hanya pernah satu kali mengalami pemugaran sejak dibangun. Beruntung, kini keberadaannya telah banyak dikenal publik lewat media sosial. Belum lama ini, Komunitas Jelajah melakukan bakti sosial membersihkan tugu tersebut. (*)

 

Bagaimana menurut Anda? Tulis pendapatmu di kolom komentar

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *