Pecinan Samarinda: Dari Banjir Kap hingga Pusat Bisnis (1945-1980)

Pecinan Samarinda: Dari Banjir Kap hingga Pusat Bisnis (1945-1980)

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

HARIANKALTIM.COM – Berbicara soal pecinan (Chinatown) kita akan menemukan sebuah kawasan yang dimana mayoritas penduduknya adalah etnis Tionghoa atau peranakan Thionghoa.

Kawasan Pecinan juga banyak tersebar di Indonesia bahkan di dunia. Seperti di Indonesia ada pecinan di Kota Jakarta namanya adalah Glodok, di Kota Surabaya ada Pecinan Kapasan dan di Kota Semarang ada Pecinan Sewamis.

Bahkan ada juga beberapa di belahan dunia lain Pecinan seperti Pecinan tertua di dunia yaitu Chinatown Vancouver dan Chinatown San Francisco.

Samarinda pun juga memilki kawasan Pecinannya yaitu terletak di kawasan pelabuhan Samarinda.

Pecinan Samarinda: Dari Banjir Kap hingga Pusat Bisnis (1945-1980)

Menurut catatan Assistant Resident Oost Borneo pertama H Vande Wall kepada Gubernur Belanda, awal mula migrasi etnis Tionghoa ke Kota Samarinda dimula pada akhir abad ke 19.

Dalam buku Sejarah Kota Samarinda (hal 63) kawasan Pecinan terjadi pada awal abad ke-20 yaitu sekitar tahun 1945-1950an, dimana perkembangannya para etnis Tionghoa ini bertujuan untuk berdagang di kawasan pelabuhan (Straat Te-eng atau yang kini dikenal Jalan Yos Sudarso, Bloem Straat atau Jalan Mulawarman, Jalan Niaga Timur eks Kompleks Pinang Barbaris serta kawasan lainnya) Kota Samarinda.

Hal ini dikarenakan kawasan pelabuhan merupakan kawasan strategis untuk berdagang dan juga kawasan ini merupakan pelabuhan besar di Kota Samarinda serta berdekatan dengan pasar pertama yaitu Pasar Pagi.

Pecinan Samarinda: Dari Banjir Kap hingga Pusat Bisnis (1945-1980)

Pecinan di Kota Samarinda juga menjadi pusat perekonomian, hal tersebut dikarenakan dalam tata kelola ruang kota, daerah pecinan memiliki ciri khas yaitu rumah-toko. rumah-toko merupakan ide yang solutif bagi etnis tionghoa dalam melakukan kegiatan berdagang serta tempat tinggal.

Identik dengan bangunan yang rapat dan memiliki lorong yang panjang serta terhubung dari rumah-toko ke rumah-toko lainnya.

Namun pada awal 1950an konsep rumah-toko masih terbuat dari kayu dan komoditas yang diperjual belikan sudah mencakup sandang, pangan dan papan, dimana banyak sekali toko-toko pakaian, alas kaki, toko kelontong, hingga warung kopi.

Masuk pada awal 1960an terjadi perkembangan rumah-toko etnis Tionghoa hingga ke Jalan Panglima Batur setelah peristiwa kebakaran besar pada 2 April 1958.

Pecinan Samarinda: Dari Banjir Kap hingga Pusat Bisnis (1945-1980)

Pada Dekade ini rumah-toko etnis Tionghoa tidak lagi menggunakan kayu, melainkan memakai konsep batu/plesteran untuk menghindari kebakaran.

Kegiatan ekonomi juga mengalami perkembangan yang cukup signifikan, hal tersebut dikarenakan pada akhir 1960an Kota Samarinda telah memasuki era “Banjir Kap”.

Hal tersebut berdampak besar sampai mendongkrak kegiatan perokonomian di kawasan Pecinanan karena berdekatan dengan Pasar Pagi dan Pelabuhan Kota Samarinda.

Pecinan Samarinda: Dari Banjir Kap hingga Pusat Bisnis (1945-1980)

Pada tahun 1970an hingga 1980an merupakan masa puncaknya, hal tersebut dikarenakan Kota Samarinda telah menjelma menjadi pusat kegiatan ekonomi dan peredaran uang.

Kota Samarinda menjadi pusat pangkal dari kegiatan ekspor kayu (peristiwa Banjir Kap) dikarenakan pada saat itu banyak sekali OKB (orang kaya baru) yang dimana orang-orang ini sangat suka sekali berbelanja.

Hal itu mendongkrak drastis kegiatan perekonomian sehingga kawasan pertokoan di Kota Samarinda makin berkembang pesat hingga ke Jalan Hidayatullah, Diponegoro, Agus Salim hingga Imam Bonjol.

Pertokoan ini didominasi 90 persen oleh etnis Tionghoa (Sejarah Kota Samarinda hal 65).

Perkembangan Pecinan di Kota Samarinda merupakan fakta nyata bahwa selama 4 dekade kawasan ini menjadi sentral kegiatan ekonomi karena tempatnya yang strategis serta peristiwa Banjir Kap yang memberikan dampak positif yang besar kepada Kota Samarinda terutama di bidang ekonomi.
(Ari Istiqfarry Rachiem)

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0821-522-89-123 atau email: hariankaltim@ gmail.com