HARIANKALTIM.COM – Peringatan cuaca ekstrem dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) beberapa hari lalu akhirnya terbukti.
Hujan deras yang mengguyur Samarinda sejak Rabu siang (22/10/2025), membuat puluhan titik terendam banjir, sebagian disertai longsor dan pohon tumbang. Ironisnya, peringatan dini itu tampak tak diantisipasi serius pihak terkait.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Timur, sedikitnya 24 titik dilaporkan tergenang dengan ketinggian air antara 30 hingga 70 sentimeter. Genangan terparah terjadi di kawasan Juanda, Suryanata, Lempake, hingga Loa Bakung.
Selain banjir, tanah longsor juga terjadi di Jalan Wiratama, Kelurahan Air Hitam, menimpa satu rumah warga. Beberapa pohon tumbang dilaporkan di Jalan Antasari 2, Sutami, dan Juanda 8, menyebabkan kerusakan ringan pada rumah serta kendaraan warga.
Padahal, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini sejak akhir pekan lalu, terkait potensi cuaca ekstrem akibat pengaruh tidak langsung Siklon Tropis Fengshen di Laut Filipina Barat.
Peluang hujan dengan intensitas menengah hingga tinggi di Kaltim mencapai lebih dari 80 persen, terutama di wilayah Samarinda dan sekitarnya.
Namun, di lapangan, persiapan mitigasi bencana terlihat minim. Sejumlah warga mengeluhkan drainase yang mampet dan tak diperbaiki meski sudah sering menyebabkan genangan.
“Kalau hujan deras dua jam saja, air langsung masuk rumah. Sudah sering dilapor, tapi belum ada tindakan,” ujar Rina, warga Sempaja.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda telah mengerahkan personel untuk mengatasi dampak bencana hidrometeorologi ini.
“Kami terus melakukan pemantauan intensif dan penanganan langsung di lapangan,” kata Kepala BPBD Samarinda, Suwarso.
Hingga malam tadi, tim gabungan dari BPBD Kota Samarinda, BPBD Provinsi Kalimantan Timur, TNI, Polri dan relawan masih bersiaga di sejumlah titik rawan. Warga diimbau tetap waspada terhadap hujan susulan dan potensi longsor di wilayah berbukit. (RED)







