Kenapa Angka Kualitas Udara Samarinda Bisa Berbeda-beda? Ini Penjelasannya

Kenapa Angka Kualitas Udara Samarinda Bisa Berbeda-beda? Ini Penjelasannya

HARIANKALTIM.COM – Angka kualitas udara Samarinda yang ditampilkan sejumlah sumber pada Minggu (20/09/2026) berbeda cukup jauh.

Pemantauan pada pagi hari menunjukkan BMKG mencatat PM2.5 sebesar 228,2 µg/m³, sementara KLH mencatat ISPU 139. Di sisi lain, IQAir menampilkan AQI 83 dengan PM2.5 sekitar 26,1 µg/m³.

Perbedaan angka tersebut tidak bisa langsung diartikan sebagai salah satu data keliru. Alat, lokasi, waktu pengukuran dan metode pengolahan data dapat memengaruhi hasil yang ditampilkan.

Hal ini pernah dijelaskan Herizal, yang saat itu menjabat Deputi Bidang Klimatologi BMKG. Dalam penjelasannya beberapa waktu lalu, ia menyebut perbedaan alat ukur dapat memicu perbedaan hasil dan persepsi mengenai kualitas udara.

Menurut Herizal, instrumen yang tidak terstandar dan tidak terkalibrasi umumnya memiliki tingkat akurasi lebih rendah.

Ia juga menjelaskan konsentrasi partikulat dapat berubah sepanjang hari, sehingga hasil pengukuran pada satu waktu belum tentu sama dengan waktu lainnya.

BRIN
Persoalan akurasi dan kalibrasi sensor juga masih menjadi perhatian dalam pemantauan kualitas udara.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 9 September 2026 menerbitkan buku Praktik Pemantauan Kualitas Udara Berbasis Low-Cost Sensor.

Buku yang ditulis Kemal Maulana Alhasa, Heru Dwi Wahyono, Satmoko Yudo dan Irwan Kustianto, seluruhnya dari BRIN, membahas antara lain evaluasi sensor, kalibrasi, akurasi, presisi, pengaruh kondisi lingkungan dan pengelolaan data.

LOKASI & WAKTU
Perbedaan angka tidak hanya berkaitan dengan alat. Lokasi dan waktu juga berpengaruh.

IQAir menjelaskan, dua stasiun yang lokasinya berdekatan dapat menghasilkan angka berbeda karena kondisi polusi yang bersifat lokal.

Kedekatan dengan jalan raya, sumber industri, konstruksi atau sumber emisi lainnya dapat memengaruhi pembacaan sensor.

IQAir juga menyebut sebagian stasiun pemerintah dapat mengalami keterlambatan pelaporan karena proses pengendalian mutu.

Akibatnya, angka yang tampil bisa merupakan hasil pengukuran satu jam atau lebih sebelumnya.

Kondisi lingkungan juga dapat memengaruhi sensor tertentu. IQAir menjelaskan kelembapan tinggi dalam kondisi tertentu dapat membuat sensor berbasis laser membaca konsentrasi PM2.5 lebih tinggi.

Karena itu, platform tersebut menerapkan proses kalibrasi dan koreksi terhadap data sensor.

TIDAK SAMA
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah angka ISPU dan AQI tidak menggunakan skala yang sama.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 14 Tahun 2020 mendefinisikan ISPU sebagai angka yang menggambarkan kondisi mutu udara ambien berdasarkan dampaknya terhadap kesehatan manusia, nilai estetika dan makhluk hidup lainnya.

Sementara IQAir menggunakan US AQI. Platform tersebut menjelaskan bahwa AQI dihitung berdasarkan konsentrasi polutan dan mengambil nilai indeks tertinggi dari polutan yang dominan.

Karena itu, ISPU 27 tidak bisa dibaca sama dengan AQI 27. Begitu pula ISPU 139 tidak berarti sama dengan AQI 139.

MALAM
Perubahan kondisi juga terlihat pada pemantauan KLH di Stasiun Samarinda Taman Segiri.

Pada 20 September 2026 pukul 20.00 WITA, data yang ditampilkan stasiun tersebut menunjukkan ISPU 27 untuk PM2.5, dengan kategori Baik.

Angka itu jauh lebih rendah dibanding ISPU 139 yang terlihat dalam pemantauan sebelumnya.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara dapat berubah berdasarkan waktu dan kondisi di sekitar lokasi pemantauan.

Karena itu, ketika melihat data kualitas udara, masyarakat perlu memperhatikan angka, satuan, kategori, lokasi stasiun dan waktu pembaruan. (RED)

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0821-522-89-123 atau email: hariankaltim@ gmail.com