DALAM dunia politik, terkadang tak hanya undang-undang yang diperdebatkan—tapi juga undang-undang kehidupan.
Muhammad Idris, Wakil Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, kini jadi bahan obrolan, bukan hanya di ruang rapat, tetapi juga di warung kopi, hingga di jagat maya.
Nama besar Idris mendadak melejit, dan bukan karena pencapaian politisnya, melainkan karena tuduhan yang bisa dibilang cukup… spektakuler.
Gerakan Mahasiswa Hukum (GEMAH), dengan penuh percaya diri, menuduh Idris diduga terlibat dalam praktik pemerasan—dan yang lebih menghebohkan, dana yang terkumpul disinyalir digunakan untuk sesuatu yang jauh dari urusan administrasi pemerintahan: judi sabung ayam!
Ya, benar sekali, sabung ayam. Kini, bukan hanya anggaran triliunan rupiah yang menjadi sorotan, melainkan juga hobinya, yang katanya, lebih sering dihabiskan untuk… bertaruh ayam.
Menurut GEMAH, Idris konon sering “mengunjungi” kepala dinas di beberapa sektor besar, seperti Dinas Bina Marga dan Dinas Perumahan Rakyat, dengan satu tujuan: mencari keuntungan pribadi. “Untuk apa? Untuk sabung ayam,” kata mereka, seolah sedang menelusuri jejak ayam jantan yang lebih berharga dari urusan publik.
Bisa dibayangkan, seorang pejabat terhormat dengan uang pajak rakyat—ternyata mungkin lebih sibuk memilih jantan mana yang lebih tangguh di arena sabung ayam ketimbang memikirkan kebijakan tata kota.
Tentu saja, Idris tak tinggal diam. Dia menanggapi tuduhan ini dengan percaya diri yang luar biasa. “Kalau ada buktinya, saya kasih uang Rp100 juta!” katanya dengan nada penuh tantangan.
Mungkin ini semacam tawaran yang terlalu menggoda untuk ditolak, tapi entah apakah ada yang berminat mengambilnya atau malah menyerahkan bukti-bukti yang lebih kuat.
Yang jelas, Idris menyarankan pihak-pihak yang menuduhnya untuk segera melaporkan masalah ini ke aparat penegak hukum atau Badan Kehormatan DPRD DKI Jakarta—atau bahkan, jika perlu, ke malaikat.
“Saya tunggu laporannya,” katanya, seolah berkata “sini aja, buktinya nggak lari kok.”
Kini, laporan GEMAH tentang dugaan pelanggaran kode etik dan praktik perjudian yang melibatkan Idris sudah sampai di meja Badan Kehormatan DPRD DKI Jakarta.
Semua mata kini tertuju pada proses ini: apakah Idris benar-benar hanya sedang dipermalukan oleh gossip politik, ataukah kisah ini akan berlanjut dengan tabir yang terungkap?
Yang pasti, kisah ini memberikan pelajaran berharga bahwa dalam dunia politik, kadang ayam sabung bisa lebih berharga daripada kebijakan pembangunan. (RS)

