HARIANKALTIM.COM – Sebagai bentuk tindak lanjut atas meningkatnya konflik sosial akibat penggunaan jalan nasional oleh angkutan tambang batu bara di wilayah Muara Kate, Kabupaten Paser, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menggelar rapat terbatas lintas sektor yang dipimpin langsung oleh Gubernur Rudy Mas’ud, di Sekretariat Wakil Presiden RI, Jakarta, Senin (16/06/2025).
Rapat ini dihadiri oleh Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kaltim, Bambang Arwanto, Plt. Kepala Sekretariat Wapres Al-Muktabar, serta perwakilan Kementerian ESDM, Kementerian PUPR, Forkopimda Kaltim (daring), dan Bupati Tabalong.
Pertemuan ini menjadi lanjutan dari agenda kunjungan kerja Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, ke Dusun Muara Kate pada Minggu (15/06/2025), menyusul serangkaian insiden yang telah menelan korban jiwa dan memicu keresahan masyarakat.
Dalam rapat tersebut, Gubernur Kaltim menyampaikan bahwa Pemerintah Daerah telah mengambil langkah strategis dengan menetapkan penghentian penggunaan jalan nasional oleh PT Mantimin Coal Mining (MCM) sebagai jalur hauling.
“Sesuai ketentuan perundang-undangan, khususnya Pasal 91 UU Nomor 3 Tahun 2020, perusahaan tambang wajib menggunakan jalan hauling. Pelanggaran terhadap ini akan dikenakan sanksi administratif,” tegas Gubernur Rudy.
Kepala Dinas ESDM Kaltim, Bambang Arwanto, menjelaskan bahwa PT MCM kini diarahkan untuk menggunakan jalur hauling milik PT Prima di wilayah Tabalong, Kalimantan Selatan.
“Solusinya, PT Mantimin akan menggunakan jalan hauling PT Prima dan tidak lagi memakai jalan nasional,” ujar Bambang. Jalan hauling tersebut diketahui membentang sepanjang 143 kilometer dari Tabalong menuju Kerang Dayo, Batu Engau, Kabupaten Paser.
Saat ini, peralihan jalur tersebut masih menunggu penyelesaian perbaikan jalan dan jembatan oleh pihak perusahaan.
Selama masa transisi, PT MCM hanya diizinkan beroperasi secara terbatas di wilayah selatan Kalimantan tanpa memasuki wilayah Kalimantan Timur. “Sekali lagi, hauling di jalan nasional tidak diperbolehkan,” tegasnya.(ZYN/ADV/DISKOMINFO)
ENGLISH VERSION
As a follow-up to the rising social conflict caused by the use of national roads by coal mining transport trucks in the Muara Kate area, Paser Regency, the East Kalimantan Provincial Government held a limited cross-sector meeting led directly by Governor Rudy Mas’ud at the Secretariat of the Vice President of the Republic of Indonesia in Jakarta, on Monday (June 16, 2025).
The meeting was attended by the Head of the Energy and Mineral Resources (ESDM) Department of East Kalimantan, Bambang Arwanto, Acting Head of the Vice President’s Secretariat, Al-Muktabar, as well as representatives from the Ministry of ESDM, the Ministry of Public Works and Public Housing (PUPR), East Kalimantan Forkopimda (virtually), and the Regent of Tabalong.
This meeting followed up on the working visit of the Vice President of the Republic of Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, to Muara Kate Village on Sunday (June 15, 2025), in response to a series of incidents that have resulted in fatalities and caused public unrest.
During the meeting, the Governor of East Kalimantan announced that the regional government had taken strategic steps by halting the use of national roads by PT Mantimin Coal Mining (MCM) as a hauling route.
“In accordance with the provisions of the legislation, especially Article 91 of Law No. 3 of 2020, mining companies are required to use hauling roads. Violations of this will be subject to administrative sanctions,” emphasized Governor Rudy.
Bambang Arwanto, the Head of the ESDM Department of East Kalimantan, explained that PT MCM is now directed to use the hauling road owned by PT Prima in the Tabalong region, South Kalimantan.
“The solution is that PT Mantimin will use PT Prima’s hauling road and will no longer use the national road,” said Bambang. The hauling road is known to stretch 143 kilometers from Tabalong to Kerang Dayo, Batu Engau, Paser Regency.
Currently, the route transition is still awaiting the completion of road and bridge repairs by the company.
During this transition period, PT MCM is only permitted to operate in limited areas of South Kalimantan without entering East Kalimantan. “Once again, hauling on national roads is not allowed,” he stressed. (ADV/RED4/g)

