SMPN 40 Samarinda Tidak Kembalikan Uang Perpisahan, Ini Alasannya

SMPN 40 Samarinda Tidak Kembalikan Uang Perpisahan, Ini Alasannya

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

HARIANKALTIM.COM — Berbeda dengan SMAN 4 Samarinda yang bersedia mengembalikan uang perpisahan bahkan 100 persen, SMPN 40 Samarinda justru sebaliknya.

Pihak sekolah yang beralamat di Jalan Slamet Riyadi ini menegaskan tidak akan mengembalikan dana Rp350 ribu per siswa yang telah dikumpulkan untuk kegiatan perpisahan.

Alasannya, karena kegiatan dan pengelolaan dana tersebut sepenuhnya merupakan keputusan dan tanggung jawab orangtua murid, bukan pihak sekolah.

Dalam klarifikasi yang disampaikan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, M. Irfan, pihak sekolah hanya berperan sebagai fasilitator dalam forum orangtua.

“Kami tidak menetapkan biaya, tidak mengelola uang, dan tidak menerima dana perpisahan. Semua dikelola oleh panitia orangtua yang terbentuk dalam pertemuan bersama,” tegas Irfan didampingi Kepala Sekolah, Agus Iswanto, belum lama ini.

Dikatakan, acara perpisahan bukan bagian dari agenda sekolah, melainkan inisiatif orangtua siswa yang menginginkan kegiatan pelepasan secara formal.

Sekolah telah menyampaikan tiga opsi kepada orangtua, yakni selamatan sederhana antar kelas, perpisahan terbatas di sekolah, dan tidak mengadakan acara perpisahan sama sekali.

Mayoritas orangtua, menurut Irfan, memilih untuk tetap menggelar acara. Bahkan sempat muncul keinginan untuk menyelenggarakan perpisahan di gedung atau hotel, namun akhirnya diputuskan untuk dilaksanakan di lingkungan sekolah, demi efisiensi biaya dan menyesuaikan arahan Dinas Pendidikan.

Dana sebesar Rp350 ribu per siswa, jelas Irfan, merupakan hasil diskusi dalam forum orangtua, bukan keputusan internal sekolah.

Rincian dana termasuk kebutuhan konsumsi, dokumentasi, dan perlengkapan acara.

Bahkan, panitia dari orangtua juga mengajukan proposal kegiatan secara tertulis kepada pihak sekolah, sebagai bentuk pelaporan.

“Sosialisasi kegiatan sudah kami mulai sejak akhir Februari, agar orangtua bisa mengatur keuangan lebih awal tanpa terburu-buru,” ujar Irfan.

Ia juga menambahkan bahwa dana dikumpulkan melalui rekening yang dibuka atas nama wali murid, bukan sekolah.

Saat ini, meski ada desakan dari sebagian pihak agar dana dikembalikan, sekolah menegaskan bahwa mereka tidak memiliki wewenang untuk melakukan itu, karena tidak mengelola dana secara langsung.

SUBSIDI SILANG
Bagi siswa yang kesulitan membayar, panitia menerapkan sistem subsidi silang.

“Anak yang tidak mampu tetap diikutkan dalam acara, ada sekitar 20 orang. Tidak ada pemaksaan,” kata Irfan.

Sekolah juga memastikan bahwa acara perpisahan tidak memengaruhi hak siswa terhadap dokumen akademik, termasuk ijazah.

“Pembagian ijazah tetap berjalan sesuai ketentuan. Tidak ada hubungannya dengan kegiatan perpisahan,” pungkasnya. (RED)

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0821-522-89-123 atau email: hariankaltim@ gmail.com