Pelatihan UMKM di Kutim Dievaluasi, Disperindag: Sertifikat Bukan Lagi Tujuan Akhir

Pelatihan UMKM di Kutim Dievaluasi, Disperindag: Sertifikat Bukan Lagi Tujuan Akhir

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

HARIANKALTIM.COM, SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai menata ulang pendekatan pembinaan UMKM dengan menekankan pentingnya hasil konkret daripada sekadar penyelenggaraan pelatihan. Bimbingan teknis yang setiap tahun diikuti ratusan peserta kini diarahkan untuk menghasilkan perubahan perilaku usaha yang lebih terukur.

Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadani, menuturkan bahwa sertifikat pelatihan sering kali dianggap sebagai capaian tersendiri oleh peserta. Padahal, tujuan pemerintah melaksanakan bimtek adalah memperbaiki pola kerja dan daya saing pelaku usaha.

“Kami mengakui sertifikat penting sebagai bukti keikutsertaan. Namun, hasil akhir yang ingin kami lihat adalah bagaimana materi yang diberikan betul-betul digunakan untuk memperbaiki usaha mereka,” ucapnya.

Ia menegaskan perlunya komitmen pelaku UMKM dalam menerapkan materi, bukan hanya mengumpulkan dokumen.

Menurut Nora, beberapa peserta masih cenderung kembali pada kebiasaan lama setelah pelatihan selesai. Kecenderungan itu menjadi indikator bahwa perlu ada pendekatan baru dalam pembinaan.

“Pelatihan saja tidak cukup jika tidak diikuti pendampingan. Kami mulai melakukan peninjauan kembali agar pelaku UMKM tidak sekadar hadir, tetapi juga belajar menerapkan teknik baru secara bertahap,” katanya.

Disperindag juga memperluas cakupan pelatihan sesuai kebutuhan pasar. Materi seperti pemasaran digital, pengolahan bahan lokal, pemotretan produk, dan pembukuan sederhana menjadi prioritas tahun ini.

“Kami ingin memastikan setiap materi punya relevansi kuat dengan kebutuhan usaha mereka. Prinsipnya, semakin kontekstual pelatihan, semakin besar peluang pelaku UMKM menerapkannya,” ungkap Nora.

Mulai tahun ini, pemerintah menerapkan skema tindak lanjut berbasis pendampingan. Pendamping akan melakukan kunjungan usaha, evaluasi perkembangan, hingga membantu peserta memecahkan masalah teknis yang ditemui setelah pelatihan.

“Kami ingin memastikan bahwa pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan administratif. Hasilnya harus bisa dirasakan langsung oleh pelaku usaha,” jelasnya.

Ia menilai keberhasilan pelatihan akan ditentukan oleh peningkatan omzet, pembentukan pasar baru, dan kemampuan UMKM memperluas jaringan.

“Jika pelaku UMKM mulai naik kelas, itu artinya pelatihan berjalan di jalur yang benar,” tandas Nora. (ADV/Diskominfo Kutim/Jen).

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0821-522-89-123 atau email: hariankaltim@ gmail.com