Disperindag Kutim Dorong Kualitas Batik Lewat Rekomendasi Bahan Ramah Iklim Tropis

Disperindag Kutim Dorong Kualitas Batik Lewat Rekomendasi Bahan Ramah Iklim Tropis

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

HARIANKALTIM.COM, SANGATTA — Upaya memperbaik mutu batik lokal di Kutai Timur memasuki tahap pendampingan baru. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim memilih jalur dialogis dengan para perajin untuk memastikan batik yang dihasilkan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga nyaman dipakai di daerah yang didominasi cuaca panas.

Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadani, mengatakan bahwa pihaknya tidak mengatur mekanisme pengadaan bahan baku. Hal tersebut sepenuhnya menjadi ruang gerak perajin.

“Bahan baku itu terikat aktivitas bisnis. Perajin yang memilih sendiri karena mereka lebih mengetahui akses, harga, dan kualitas yang mereka butuhkan,” ujarnya.

Menurut Nora, Disperindag tidak memiliki kewenangan untuk menentukan pemasok, sehingga pendampingan lebih diarahkan pada aspek teknis dan rekomendasi.

Salah satu masukan yang diberikan berkaitan dengan karakter bahan kain. Dengan kondisi iklim Kutai Timur yang panas, bahan yang terlalu tebal atau tidak menyerap udara dinilai kurang sesuai.

“Kami menyampaikan bahwa penggunaan bahan yang lebih ringan akan membuat batik nyaman dipakai. Ini bukan aturan, hanya pertimbangan agar produk mereka lebih diterima pasar,” jelasnya.

Ia mengatakan, sebagian perajin mulai merespons masukan tersebut. Ada yang melakukan uji coba bahan baru dan mengatur ulang konsep desain agar lebih adaptif. Melalui proses itu, Disperindag berharap perajin tetap dapat berkarya dengan identitas khas Kutim, tetapi tetap memperhatikan kenyamanan pengguna.

Pendekatan yang diambil pemerintah daerah ini didesain agar tidak menyentuh ranah usaha privat. Nora menegaskan bahwa pembinaan yang dilakukan bukan untuk mengarahkan bisnis ke pola tertentu, melainkan untuk memperluas wawasan teknis.

“Kami ingin mempertahankan kemandirian industri. Perajin tetap menjadi pengambil keputusan utama,” katanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, batik Kutim mulai mendapat perhatian di daerah lain. Pemerintah melihat peluang tersebut dan ingin memastikan kualitas produk tetap kompetitif. Selain pendampingan bahan, Disperindag juga menjajaki kemungkinan memberikan pelatihan pewarnaan dan penyelarasan motif agar warisan budaya lokal makin terlihat.

“Kami ingin membuat proses pembinaan ini sebagai ruang belajar bersama. Perajin tetap memiliki otoritas penuh, sementara kami menyediakan dukungan teknis yang relevan,” pungkasnya. (ADV/Diskominfo Kutim/Jen)

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0821-522-89-123 atau email: hariankaltim@ gmail.com