Kutim Percepat Industrialisasi Komoditas Lokal, Tiga Sentra Unggulan Mulai Diperkuat

Kutim Percepat Industrialisasi Komoditas Lokal, Tiga Sentra Unggulan Mulai Diperkuat

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

HARIANKALTIM.COM, SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mempercepat pengembangan sentra industri berbasis komoditas lokal sebagai bagian dari strategi industrialisasi non-tambang. Tiga komoditas pisang, kakao, dan karet ditetapkan sebagai prioritas utama karena telah memiliki jaringan pelaku usaha, pasar yang stabil, serta peluang hilirisasi yang dianggap paling siap dikembangkan dalam jangka menengah.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kutim, Nora Ramadhani, menjelaskan bahwa penguatan sentra industri dilakukan melalui skema pembinaan terpadu mulai dari produksi hingga pemasaran. Ia menyebut banyak petani dan pelaku IKM selama ini hanya bermain di posisi paling bawah dalam rantai produksi.

“Ketika petani hanya menjual bahan mentah, nilai tambah mengalir keluar daerah. Industri hulu ke hilir harus diciptakan di sini, bukan di tempat lain,” kata Nora.

Ia menegaskan, pemerintah ingin pelaku usaha lokal merasakan keuntungan langsung dari proses pengolahan.

Untuk komoditas pisang, dua kecamatan Kaubun dan Kaliorang kini menjadi titik pertumbuhan industri. Produk seperti susu pisang, keripik premium, Fruitibox, hingga Kalbana sudah menembus pasar nasional, dan sebagian kecil telah dikirim ke luar negeri. Pemerintah melihat keberhasilan ini sebagai bukti bahwa sentra inovasi dapat menjadi penggerak ekonomi desa.

“Ketika pasarnya bertambah luas, struktur usaha petani berubah. Mereka bukan hanya pemasok bahan baku, tapi bagian dari industri,” ujar Nora.

Di saat yang sama, komoditas kakao dan karet mulai diarahkan ke tahap pengolahan lokal. Kakao dinilai potensial karena selama ini sebagian besar hanya dijual dalam bentuk biji kering. Hal serupa terjadi pada karet, yang bertahun-tahun dilepas dalam bentuk slab mentah. Pemerintah ingin kedua komoditas ini memasuki tahap pengolahan sehingga lebih banyak tenaga kerja terserap.

“Industri pendukung akan tumbuh otomatis ketika hilirisasi berjalan. Itulah yang ingin kami bangun,” tambahnya.

Namun, ia mengakui bahwa tantangan masih besar. Banyak IKM belum memiliki alat produksi yang memadai, standar kualitas belum merata, dan kemampuan teknis juga perlu diperkuat. Disperindag Kutim menyiapkan pelatihan pengolahan, bantuan mesin, serta fasilitasi kemitraan dengan pembeli besar untuk memastikan produk lokal memenuhi standar industri.

“Kami tidak ingin pelaku IKM hanya berkembang sesaat. Mereka harus mampu bersaing di pasar luas secara konsisten,” jelas Nora.

Menurutnya, fokus pemerintah pada tiga sentra industri ini merupakan strategi jangka panjang untuk membentuk struktur ekonomi yang lebih inklusif.

“Kalau nilai tambah tinggal di Kutai Timur, masyarakat akan berada pada posisi yang lebih kuat dalam rantai ekonomi,” tutupnya. (ADV/Diskominfo Kutim/Jen).

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0821-522-89-123 atau email: hariankaltim@ gmail.com