HARIANKALTIM.COM – Asap dari secangkir kopi tubruk mengepul di warung kecil milik Kai Udin, beradu dengan debu pagi Jalan KH Abul Hasan Samarinda yang terasa aneh.
Pagi itu, jalanan terasa lebih lengang tapi juga lebih tegang. Beberapa barrier oranye berdiri kaku, memaksa puluhan tahun kebiasaan berbelok ke arah yang baru.
Di salah satu meja reyot, Amir, seorang driver ojek online, menggeser layar ponselnya dengan gusar. “Bah, pusing kepala berbie gara-gara jalan satu arah ini,” gerutunya. “Mau antar pesanan ke seberang aja harus mutar jalan. Tekor bensin!”
Di seberangnya, Mbak Siti yang menjaga toko kain warisan keluarganya hanya bisa menghela napas.
“Sama, Mir. Toko mamaku sepi dari kemarin. Pelanggan malas katanya mau singgah, ribet cari parkir sama jalannya memutar. Bisa anjlok omzet bulan ini,” sahutnya pelan.
Dari sudut warung, Pak Haji Rahman, sesepuh yang rambutnya sudah memutih seiring riwayat jalan itu, menyeruput kopinya dengan tenang.
“Heh, bubuhannya ini. Dari dulu jalan ini memang sudah pusatnya kota,” ujarnya dengan logat Banjar yang kental. “Namanya aja Jalan Abul Hasan, nama ulama besar kita. Bukan sembarang jalan. Dulu dua arah, ganti satu, sekarang balik lagi. Pemerintah ini kayak apa gerang.”
Seorang pemuda berkacamata di meja sebelah, yang ternyata mahasiswa, ikut nimbrung. Namanya Budi. “Betul, Pak Haji. Kampus UINSI saya yang di ujung situ juga kan akhirnya pindah besar-besaran ke Loa Janan karena sudah nda muat lagi di sini. Saking padatnya sudah pusat kota ini,” katanya.
Pak Haji Rahman mengangguk-angguk, matanya menerawang ke seberang jalan, ke arah tembok tinggi pemakaman. “Nah, itu buktinya. Kampus pindah. Itu lagi, lihat Kuburan Muslimin, sudah ditutup resmi. Penuh! Sampai kedada lagi tempat buat orang meninggal. Kota ini sudah hibak, Bud, buat yang hidup sama yang sudah tiada.”
Ucapan Pak Haji membuat suasana hening sejenak. Mereka semua tahu kebenarannya. Jalan Abul Hasan bukan sekadar aspal dan ruko. Di sana ada denyut sejarah, dari lokasinya yang tak jauh dari pasar tertua yang pernah terbakar hebat, kampus yang mencetak ribuan sarjana, hingga tempat peristirahatan terakhir para leluhur mereka.
Tiba-tiba, langit yang tadinya cerah mulai meredup. Gerimis turun perlahan, membasahi aspal.
Amir menengadah. “Nah, gerimis… Jangan sampai banjir lagi di Simpang Darjad sana. Lengkap sudah penderitaan kita.”
Pak Haji Rahman tersenyum getir. “Itulah… makin banyak ruko, makin banyak semen, air mau lari ke mana? Dulu di sini masih banyak tanah kosong. Sekarang? Banyunya ya lari ke jalanan,” jelasnya. “Sabarai, nasib kita tinggal di kota yang makin ganal tapi makin sempit.”
Gerimis berubah menjadi hujan. Amir buru-buru menyalakan motornya, siap menembus rute baru yang lebih panjang.
Mbak Siti membayar kopinya dan bergegas kembali ke tokonya yang sepi. Budi membuka payung, berjalan menuju sisa-sisa kampusnya yang kini terasa lengang.
Hanya Pak Haji Rahman yang masih duduk di sana, menatap jalanan yang kini hanya bisa dilalui satu arah. Seperti nasib kota ini, pikirnya, terus maju ke depan, terkadang lupa caranya untuk menengok atau sekadar kembali ke belakang.
Di tengah deru mesin dan rinai hujan, Jalan Abul Hasan menyimpan ceritanya dalam diam. (RED)
Catatan Redaksi:
Artikel ini terinspirasi dari peristiwa dan dinamika sosial yang nyata di sekitar Jalan KH Abul Hasan, Samarinda.
Tokoh-tokoh yang hadir beserta dialognya ditulis dan disajikan untuk merepresentasikan beragam suara dan perspektif masyarakat setempat.
Setiap kemiripan dengan individu nyata adalah sebuah kebetulan.







