HARIANKALTIM.COM – Setelah jalan yang menghubungkan Kutai Barat (Kubar) dan Mahakam Ulu (Mahulu) amblas akibat longsor di Kenalung, Kampung Mamahak Besar, pada 13 April 2025, berbagai pertanyaan muncul terkait kualitas material dan siapa yang bertanggung jawab atas proyek tersebut.
Dalam klarifikasi yang diberikan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek ini, Imtihan S. Baqy, terungkap beberapa informasi baru, namun banyak yang tetap misterius.
Menurut Baqy, proyek ini dikerjakan oleh PT Wimala Nusantara Jaya, dengan panjang jalan mencapai 7,5 km dan lebar 6 meter, menggunakan anggaran sebesar Rp122 miliar.
Meskipun proyek ini menggunakan dana APBN 2022, dan selesai pada Agustus 2024, Baqy menegaskan bahwa jalan tersebut hanya menggunakan aspal pada bagian badan jalan, sedangkan beton hanya digunakan pada bahu jalan yang bukan bagian struktur utama.
“Jalan yang amblas itu memang hanya aspal, dan kondisi eksisting di daerah tersebut memang hanya tanah dengan jurang di sisi kanan kiri. Cuaca ekstrem dengan hujan tinggi memang menjadi penyebab longsor,” jelas Baqy saat menyampaikan klarifikasi, Selasa malam (15/04/2025).
Namun, kejanggalan muncul saat dikonfirmasi bahwa PT Karya Jaya Indah tercatat di LPSE sebagai kontraktor pemenang lelang.
Menurut penjelasan Baqy, PT Karya Jaya Indah bekerja dalam kerja sama operasi (KSO) dengan PT Wimala Nusantara Jaya. Hal ini semakin membingungkan karena di LPSE tidak tercatat adanya informasi mengenai KSO antara kedua perusahaan tersebut.
Hariankaltim.com mencoba meminta penjelasan lebih lanjut mengenai kontrak ataupun salinan dokumen resmi, namun Baqy menolak.
“Nda bisa, mas,” katanya singkat, meskipun menurut Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik, kontrak proyek yang menggunakan dana negara seharusnya dapat diakses oleh publik.
Beberapa saat kemudian, ia mengaku sedang berada di luar, sementara dokumen kontrak berada di kantor. “Saya masih di Mahulu, Mas,” ujarnya. (RED)







