Bukan Salah Pemerintah, Dua Kelakuan Warga Ini Mencoreng Pawai Samarinda

Bukan Salah Pemerintah, Dua Kelakuan Warga Ini Mencoreng Pawai Samarinda

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

HARIANKALTIM.COM – Kemeriahan Pawai Pembangunan dan Karnaval Budaya dalam rangka HUT ke-80 Republik Indonesia di Kota Samarinda, Sabtu (23/08/2025), harus tercoreng oleh ulah dua kelakuan warga yang dianggap meresahkan.

Di tengah antusiasme ribuan warga yang memadati jalan, masalah parkir liar dengan tarif tak wajar dan sampah yang berserakan menjadi sorotan utama.

Sejumlah penonton melaporkan tarif parkir sepeda motor mencapai Rp10.000

Para oknum memanfaatkan momen ini untuk mengeruk keuntungan pribadi, membuat warga merasa dirugikan.

“Gila, saya bayar parkir sampai Rp10 ribu, padahal jauh banget dari lokasi pawai,” ujar Rahmat, salah satu pengunjung yang datang dari Samarinda Seberang.

Selain itu, sampah berserakan di mana-mana usai acara. Meskipun panitia sudah menyiapkan tempat sampah, kesadaran warga untuk membuang sampah pada tempatnya masih sangat kurang.

Pemandangan tumpukan sampah di sepanjang rute pawai meninggalkan kesan buruk dari acara yang seharusnya menjadi ajang kebanggaan kota.

“Kita datang untuk lihat yang bagus, tapi pulangnya malah lihat tumpukan sampah. Sepertinya kesadaran warga masih kurang,” tambah Rio, seorang mahasiswa yang juga turut menyaksikan pawai.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh Fani, seorang ibu rumah tangga. “Sampah di mana-mana, jijik lihatnya. Padahal kalau semua orang mau buang sampah di tempatnya, kan bisa bersih,” keluhnya.

MERIAH
Mesk demikian, Pawai Pembangunan dan Karnaval Budaya 2025 berlangsung sangat meriah. Kegiatan ini mengusung tema pembangunan daerah dan nasional, seperti yang terlihat dari ikon baru Teras Samarinda dan pesan Asta Cita dari Presiden RI Prabowo Subianto.

Berbagai paguyuban juga turut menampilkan keberagaman budaya nusantara sebagai simbol persatuan.

Antusiasme masyarakat luar biasa, bahkan ada yang sudah menunggu sejak pukul 05.30 pagi. Acara ini tak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi positif bagi UMKM dan pedagang kecil.

Total peserta mencapai 205 tim, yang terdiri dari 100 mobil hias dan 105 kelompok jalan kaki, menunjukkan partisipasi yang besar dari berbagai kalangan.

Dengan segala kemeriahan dan partisipasinya, Pawai Pembangunan dan Karnaval Budaya 2025 di Samarinda kembali membuktikan diri sebagai tradisi yang memperkuat persatuan dan memberi energi positif bagi pembangunan kota.

Namun, untuk tahun-tahun berikutnya, masalah parkir dan sampah perlu menjadi perhatian serius bagi semua pihak, agar acara bisa berjalan lebih baik tanpa meninggalkan kesan buruk. (RED)

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0821-522-89-123 atau email: hariankaltim@ gmail.com