HARIANKALTIM.COM – Wali Kota Samarinda Andi Harun mengungkapkan masih dibutuhkan anggaran Rp900 miliar untuk melanjutkan pembangunan sheet pile di sepanjang Sungai Karang Mumus (SKM) sebagai bagian dari upaya pengendalian banjir di Kota Tepian.
Menurut Andi Harun, proyek besar itu menjadi prioritas karena SKM merupakan jalur utama aliran air hujan yang melintasi sebagian besar wilayah kota.
Dinding penahan atau sheet pile di sepanjang bantaran sungai berfungsi menahan tekanan air dan mencegah tebing longsor maupun luapan ke permukiman warga.
Ia menegaskan, seluruh usulan yang diajukan Pemkot Samarinda ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) saat ini berfokus pada pengendalian banjir. Termasuk pembangunan rumah pompa, kolam retensi tambahan, dan peningkatan daya tampung Waduk Benanga.
“Alhamdulillah ada perkembangan baru. Perwakilan DPRD Samarinda sudah bertemu dengan Bupati Kutai Kartanegara, dan disampaikan bahwa Kukar bersedia membangun kolam retensi di daerah perbatasan Kukar–Samarinda,” ujarnya, kemarin.
ANOMALI CUACA
Andi Harun juga menyoroti tingginya intensitas hujan yang terjadi beberapa hari terakhir. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Aji Pangeran Tumenggung Pranoto Samarinda, curah hujan mencapai 193 milimeter per detik, tertinggi sepanjang tahun ini.
“Ini anomali cuaca. Tapi lebih dari itu, saya harus minta maaf karena kegiatan pengendalian banjir belum seluruhnya selesai. Namun kami pastikan, Pemerintah Kota tidak pernah berhenti. Kami terus bergerak dan menjadikan pengendalian banjir sebagai prioritas utama,” tegasnya.
Ia juga menyebut, sinergi antara pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Wilayah IV, pemerintah provinsi, dan Pemkot Samarinda terus berjalan agar seluruh sistem pengendalian banjir berfungsi sesuai perannya masing-masing. (RED)







