HARIANKALTIM.COM, SANGATTA — Pasar murah tidak dapat lagi dijalankan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) hingga akhir tahun ini. Anggaran program telah habis dipakai pada pelaksanaan sebelumnya, sehingga Disperindag memilih mengalihkan strategi pada pengamanan stok dan pemantauan harga di lapangan.
Pejabat Fungsional Pengawas Perdagangan Ahli Muda Disperindag Kutim, Achmad Dony Erviady, mengatakan bahwa program pasar murah menghabiskan anggaran besar untuk mensubsidi harga tujuh komoditas pokok.
“Sesuai penjadwalan, program tersebut hanya dapat dilaksanakan saat Ramadan dan Idul Fitri. Setelah itu, tidak ada ruang fiskal tersisa untuk menjalankan intervensi serupa,” katanya.
Dengan tidak adanya anggaran tambahan, Disperindag memperkuat pengawasan pasokan pada distributor besar. Pemerintah memastikan bahwa barang tetap masuk ke Kutim dan distribusinya ke kecamatan berjalan tanpa hambatan. Dony menegaskan, upaya ini menjadi prioritas utama untuk mencegah lonjakan harga yang tidak wajar.
Selain pengawasan distributor, pemerintah juga meningkatkan pemantauan melalui Sistem Informasi Harga Pangan. Data harian ini menjadi dasar Disperindag menentukan kapan harus melakukan intervensi non-anggaran dalam bentuk negosiasi dengan pemasok dan peringatan dini kepada pedagang.
“Jika pada momen tertentu terjadi gejolak harga, pemerintah akan memobilisasi jaringan distribusi untuk mempercepat pasokan,” ujarnya.
Langkah ini dianggap lebih realistis dibanding memaksakan subsidi tanpa dukungan anggaran. Dony mengatakan, ketersediaan barang jauh lebih penting untuk meredam kepanikan masyarakat.
Ia memastikan pasar murah akan kembali berjalan pada tahun anggaran 2026. Pemerintah berupaya agar program tersebut kembali menjadi penyeimbang harga saat momen hari besar. “Tahun depan program ini pasti digelar lagi. Itu komitmen kami,” pungkas Dony. (ADV/Diskominfo Kutim/Jen).








