Atlet Dagongan Kukar Sudah Level Nasional

Atlet Dagongan Kukar Sudah Level Nasional
Perlombaan olahraga tradisional Dagongan memeriahkan Erau 2022, di halaman depan Museum Mulawarman. (foto: akmal hafidz/hariankaltim.com)

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

HARIANKALTIM.COM – Pelbagai upaya dilakukan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispors) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) untuk melestarikan olahraga tradisional yang merupakan budaya masyarakat Indonesia.

Salah satunya adalah menyelenggarakan perlombaan olahraga tradisional untuk memeriahkan acara adat Erau Pelas Benua dan juga Hari Jadi Kota Tenggarong ke-240.

Di antaranya adalah olahraga dagongan yang dilaksanakan pada 26-27 September 2022 bertempat di halaman depan Museum Mulawarman.

Sebenarnya permainan dagongan merupakan kebalikan dari permainan tarik tambang. Dagongan dimainkan dengan cara saling dorong-mendorong bambu antar kedua regu untuk memperoleh kemenangan.

Bambu yang dipergunakan dalam permainan olahraga tradisional ini adalah menggunakan bambu yang mempunyai ketebalan dan kekuatan yang dipersyaratkan.

Tidak diperkenankan menggunakan bambu dengan diameter yang terlalu kecil dan mudah patah, karena dapat membahayakan seluruh pemain.

Bambu yang dipergunakan minimal berdiameter 12 cm – 18 cm dengan ukuran panjang 5 m – 8 m.

Dagongan dimainkan secara beregu, baik putera maupun puteri. Jumlah anggota regu sebanyak 7 orang, terdiri dari 5 pemain dan 2 cadangan.

Bagaimana tanggapan panitia setelah olahraga tradisional ini vakum 2 tahun?

Drs Ardiansyah Sukri, sebagai Koordinator Olahraga Tradisional dan juga Sub Bagian Pemberdayaan dan Pengembangan Pemuda Dispora Kukar menjelaskan, sebenarnya tidak ada perubahan signifikan dari 2 tahun sebelumnya.

“Sebetulnya kita berharap tahun ini jauh lebih banyak, ternyata kurang dari tahun sebelumnya,” ujar Ardiansyah.

Ia memperkirakan lantaran faktor dari kenaikan harga BBM, sehingga yang dari luar Tenggarong semisal dari kecamatan yang lokasinya jauh, mereka tidak mungkin pulang-pergi sekadar untuk mengikuti kegiatan Erau.

“Apalagi membawa rombongan, pasti ada biaya lainnya yang harus ditanggung masing-masing peserta. Yang pasti minyak kendaraan, makan minum dan penginapan,” katanya.

Dan tahun ini untuk Dagongan ada pembatasan berat badan yang diterapkan kepada tim (5 orang) yang akan bertanding baik putra maupun putri.

“Untuk putra berat total keseluruhan tim 450 kilogram, sedangkan putri 350 kg,” jelasnya.

LEVEL NASIONAL

Di bagian lain disampaikan pula, permainan ini sudah menjadi permainan yang dinasionalkan dan masuk kalender Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) bulan lalu di Pelembang.

“Untuk atlet Dagongan Kaltim diwakili dari Desa Sidomulyo Kecamatan Anggana,” tukasnya.

Ia berharap olahraga ini lebih banyak dikenal oleh masyarakat luas dan terus dikembangkan sebagai aset budaya bangsa yang berkesinambungan.

Sementara, Saipul Anwar, peserta dari kontingen Loa Janan, mengatakan timnya setiap tahun selama kegiatan olahraga tradisional dalam acara Erau selalu hadir.

Atlet Dagongan Kukar Sudah Level Nasional
Saipul Anwar (kiri), peserta Dagongan dari kontingen Loa Janan

“Hanya 2 tahun terakhir saja kami tidak hadir karena adanya pandemi Covid-19,” katanya.

Sebagai masyarakat Loa Jalan dalam memeriahkan Erau, selalu berpartisipasi untuk mengangkat dan mengenalkan kembali olahraga tradisional peninggalan nenek moyang.

“Artinya peninggalan ini tidak boleh hilang, karenanya kami membawa anak-anak untuk ikut dalam kegiatan ini,” akunya.

Saipul berharap ke depannya agar sosialisasi-sosialisasi dari Dispora lebih diperbanyak lagi agar nanti acaranya menjadi lebih meriah. (AH/ADV/DISPORA)

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0821-522-89-123 atau email: hariankaltim@ gmail.com