HARIANKALTIM.COM – Pagi di tepian Sungai Mahakam selalu dimulai dengan suara logam dan langkah berat. Karung diangkat. Tali ditarik. Kapal bersandar, lalu hidup kembali oleh tangan-tangan buruh.
Di balik riuh aktivitas pelabuhan, ada cerita lama yang belum selesai.
Sejak era kolonial, buruh pelabuhan di Samarinda sudah menjadi tulang punggung ekonomi sungai. Mereka bekerja sebagai kuli angkut. Upah harian. Tanpa jaminan.
Waktu berubah. Sistem berganti. Tapi nasibnya sering terasa sama.
Memasuki 1950-an, gelombang perlawanan buruh mulai terasa. Mogok kerja terjadi di berbagai wilayah Kalimantan. Aktivitas pelabuhan sempat lumpuh. Itu menjadi titik awal kesadaran: buruh punya kekuatan jika bersatu.
Namun, pada masa Orde Baru, suara itu kembali ditekan. Sistem kerja tetap bergantung pada pola borongan. Buruh berada di bawah kendali kelompok tertentu. Ruang protes nyaris tertutup.
Reformasi membuka pintu. Serikat buruh mulai tumbuh. Di Samarinda, organisasi buruh lokal bermunculan. Tapi persoalan lama tak ikut hilang.
Upah tak dibayar. Status kerja tak jelas. Sistem tetap rentan.
Beberapa tahun terakhir, keluhan buruh pelabuhan kembali mencuat. Ada yang mengaku bertahun-tahun belum menerima haknya. Nilainya bahkan sangat banyak. Ancaman penutupan pelabuhan pun sempat muncul.
Di sisi lain, kehidupan mereka tetap berjalan. Sesama buruh saling bantu. Solidaritas menjadi penyangga di tengah ketidakpastian.

Tanggal 1 Mei 2026, dunia memperingati Hari Buruh Internasional. Spanduk tuntutan kembali dibentangkan. Suara buruh kembali terdengar.
Di Samarinda, gema itu mungkin tidak selalu riuh di jalanan. Tapi denyutnya ada—di setiap angkat barang, di setiap keringat yang jatuh di dermaga.
May Day bukan sekadar seremoni. Bagi buruh pelabuhan, ini pengingat bahwa perjuangan belum selesai. (RED)






