HARIANKALTIM.COM, SANGATTA — Rencana Pembangunan Creative Hub Kutai Timur mencuat setelah serangkaian pemetaan kebutuhan pelaku kreatif memperlihatkan bahwa sebagian besar subsektor seperti musik, film, kriya, kuliner, seni rupa, fesyen, hingga konten digital, berjalan tanpa ruang kolaboratif yang memadai. Pemerintah melihat bahwa pembangunan fasilitas terpusat dapat menjadi solusi jangka panjang untuk memberi arah lebih terstruktur pada pengembangan ekraf.
Kabid Ekraf Dispar Kutim, Ahmad Rifanie, menjelaskan bahwa creative hub dipandang sebagai simpul baru ekosistem kreatif.
“Selama ini pertumbuhan ekosistem kreatif hanya mengandalkan komunitas yang bekerja sendiri-sendiri. Mereka kreatif, tetapi kesulitan membangun jaringan karena tidak punya ruang temu yang permanen,” katanya.
Rifanie menambahkan bahwa pembangunan creative hub bukan semata-mata menyediakan gedung, tetapi menciptakan pola kerja baru yang lebih kolaboratif.
“Kami membayangkan ruang yang bisa menghubungkan pembuat film dengan musisi, desainer dengan fotografer, dan pelaku kuliner dengan konten kreator,” ujarnya.
Konsep yang saat ini disiapkan meliputi studio film lengkap dengan ruang editing, studio rekaman musik, ruang galeri, ruang pamer kriya, dapur kreatif, co-working space, serta kelas pelatihan teknis. Pemerintah juga merencanakan ruang pertunjukan kecil agar seni pertunjukan memiliki tempat ekspresinya sendiri.
Rifanie menekankan bahwa creative hub akan menjadi pusat inkubasi yang menyediakan pelatihan bisnis kreatif, mentoring, hingga fasilitasi pemasaran.
“Kita ingin industri kreatif naik kelas, bukan hanya bertahan hidup. Ruang ini harus menjadi tempat pelaku kreatif belajar mengelola karya sebagai produk ekonomi,” jelasnya.
Rancangan awal sedang dibahas bersama Bappeda dan masih menunggu arahan kepala daerah. Pemerintah melihat creative hub sebagai langkah pembuka untuk memberi fondasi struktural pada perkembangan ekraf di Kutim.
“Kalau ruangnya kuat, ekosistemnya akan terbentuk. Itu dasar dari pembangunan ekraf jangka panjang,” tutup Rifanie. (ADV/Diskominfo Kutim/Jen)








