HARIANKALTIM.COM, SANGATTA — Upaya regenerasi atlet biliar di Kutai Timur (Kutim) kini memasuki fase baru setelah arena Fourty Five Biliar resmi menjadi lokasi penyelenggaraan Sangatta Open Handicap 2025. Turnamen yang berlangsung 10–16 November ini menjadi wadah evaluasi sekaligus ajang pencarian bakat muda yang selama ini dinilai belum memiliki ruang latihan memadai.
Kepala Dispora Kutim, Basuki Isnawan, menyebut turnamen tersebut bukan sekadar kompetisi, tetapi bagian dari proses pembinaan yang lebih terstruktur. Ia menilai bahwa keberadaan venue baru memberi standar baru bagi olahraga biliar di Kutim.
Menurutnya, fasilitas itu memungkinkan atlet muda terbiasa bertanding dalam suasana profesional. Basuki mengatakan bahwa pembinaan harus berbasis fasilitas yang layak agar mental kompetitif terbentuk sejak dini.
Sistem pertandingan yang digunakan dari babak 64 besar hingga final memberi gambaran riil kualitas atlet yang muncul dari Sangatta, Bengalon, Rantau Pulung, hingga Muara Wahau. Sebanyak ratusan peserta mengikuti turnamen yang memperebutkan total hadiah Rp245 juta.
“Hadiah tersebut menjadi motivasi tambahan bagi para pemain baru untuk mulai menekuni biliar sebagai olahraga prestasi, bukan sekadar hobi.” ucap Isnawan.

Ketua KONI Kutim, Rudi Hartono, memandang turnamen ini sebagai ajang pemanasan menjelang Pra Porprov. Ia mengingatkan bahwa Kutim memiliki tradisi kuat di cabang biliar, terbukti dari 12 medali pada Porprov lalu.
“Saya minta pelatih-pelatih untuk mencatat performa atlet-atlet muda yang muncul selama turnamen untuk diproyeksikan ke event provinsi mendatang,” tutur Rudi.
Hal senada disampaikan Ketua POBSI Kutim, Narto Bulang. Ia menegaskan bahwa pemberlakuan batas usia maksimal 30 tahun pada Pra Porprov membuat regenerasi tidak bisa ditunda.
“Fourty Five Biliar akan menjadi pusat latihan yang menghidupkan persaingan sehat di antara pemain junior,” ucap dia.
Pelatih biliar Bambang menilai animo peserta menunjukkan perkembangan positif. Ia berharap venue baru akan melahirkan bibit berkualitas dari Kutim.
“Kita ingin anak-anak punya tempat bertanding yang layak supaya mereka berani bersaing,” ujarnya. (ADV/Diskominfo Kutim/Jen)








