Asal Usul Si Komo, Kak Seto Ungkap Saat Terjebak Macet di Samarinda

Asal Usul Si Komo, Kak Seto Ungkap Saat Terjebak Macet di Samarinda

Bagi anak-anak generasi 1990-an, kehadiran boneka Si Komo dan lagu berjudul “Si Komo Lewat Jalan Tol” tentu menjadi kenangan indah masa kecil mereka.

Bukan rahasia juga, di balik sosok ikonik itu ada Kak Seto, presenter dan psikolog anak.

Awalnya, boneka Si Komo hanyalah boneka tangan berukuran kecil, belum sebesar yang dikenal anak-anak selama ini.

“Jadi waktu itu dulu boneka kecil, aslinya itu (bukan hijau), tapi kita bikin besar supaya untuk operet,” kata Kak Seto dikutip dari tayangan Pagi Pagi Ambyar.

“Dulu masih hitam, jadi suaranya ‘weleh weleh/ macet lagi macet lagi/ gara-gara saya lewat’,” lanjut Kak Seto sambil menyanyikan sepenggal lagu populer Si Komo.

Tapi kemudian boneka tangan Si Komo diubah menjadi berukuran besar dengan warna hijau untuk kepentingan operet.

Suatu ketika, Si Komo yang berukuran besar itu akan menggelar pertunjukan di Samarinda.

Sebelum pertunjukan dimulai, Si Komo turun ke jalan untuk melakukan promosi.

Tapi karena banyak yang ingin foto, akhirnya menimbulkan kemacetan.

Dari kejadian itulah kemudian muncul lagu “Si Komo Lewat Tol”.

“Setelah dibikin besar, waktu itu ada pertunjukan di Samarinda, kemudian sebelum pertunjukan operet, dia (Si Komo) jalan-jalan sepanjang jalan untuk promosi,” ujar Kak Seto.

“Gara-gara banyak yang mau salaman, mau foto, akhirnya jadi macet, lahirlah lagu ‘macet lagi gara-gara Si Komo lewat’,” jelas Kak Seto.

Mengenai inspirasi karakter Si Komo, Kak Seto mengungkap semuanya bermula dari keprihatinannya atas lagu Si Kancil yang dilabeli sebagai anak nakal.

Padahal Kancil merupakan salah satu hewan khas Indonesia.

“Sebetulnya ini saya ciptakan tepat 1 Agustus 1975. Karena waktu itu saya agak sedih ada lagu ‘Si Kancil’ kok dibilang /Si Kancil anak nakal// suka mencuri ketimun// ayo lekas dikurung// jangan diberi ampun/,” kata Kak Seto.

“Padahal kancil salah satu maskot hewan khas Indonesia,” imbuhnya.

Sehingga Kak Seto saat itu mulai mencari-cari hewan lain yang khas dan hanya bisa ditemukan di Indonesia.

“Yang tidak ada di negara lain adalah komodo,” ujarnya.

Hanya saja saat itu jika menggunakan nama Komodo dinilai terlalu panjang, dan akhirnya Kak Seto memutuskan menggunakan nama Si Komo.

“Kalau lengkap Si Komodo terlalu panjang, antara Si Komo atau Si Modo, akhirnya saya pilih Si Komo tadi,” jelas Kak Seto.

Artikel ini sebelumnya terbit di kompas.com/hype/read/2021/09/23/095423766/ternyata-ini-asal-usul-karakter-dan-lagu-si-komo?page=all

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0821-522-89-123 atau email: hariankaltim@ gmail.com