HARIANKALTIM.COM — Kebakaran yang terjadi di kawasan Gang Masjid, Jalan Lambung Mangkurat, Kamis (23/04/2026), kembali membuka persoalan lama yang tak kunjung diselesaikan.
Akses jalan sempit di kawasan padat itu kembali menjadi sorotan setelah menyulitkan mobil pemadam menjangkau titik api, sebagaimana laporan resmi Dinas Pemadam Kebakaran.
Gang Masjid selama ini bukan sekadar jalur permukiman. Kawasan ini dikenal sebagai pusat aktivitas ekonomi warga, bahkan sempat dirancang sebagai “kampung fashion” oleh Pemerintah Kota Samarinda.
Dari catatan Hariankaltim.com, program itu melibatkan berbagai instansi, mulai dari Dinas Pariwisata hingga pelaku usaha lokal, dengan tujuan mendorong ekonomi kreatif di kawasan tersebut.
Namun dalam perencanaannya, persoalan mendasar justru sudah teridentifikasi sejak awal.
Salah satu hambatan utama adalah keterbatasan anggaran dan kondisi fisik kawasan yang padat, sehingga penataan infrastruktur, termasuk akses jalan, sulit direalisasikan.
Di lapangan, kondisi itu masih terlihat hingga kini. Gang Masjid menjadi jalur penghubung antara Jalan Gatot Subroto dan Jalan Lambung Mangkurat.
Dari arah Gatot Subroto, badan jalan relatif lebar. Namun semakin mendekati sisi Lambung Mangkurat, jalur menyempit drastis dan menjadi titik kemacetan, terutama karena aktivitas perdagangan yang padat.
Kawasan ini memang hidup hampir tanpa jeda. Deretan toko pakaian, kuliner, hingga usaha kecil lainnya beroperasi dari pagi hingga malam.
Kepadatan ini menjadikan Gang Masjid sebagai salah satu titik ekonomi rakyat, tetapi sekaligus menyimpan risiko tinggi saat terjadi bencana.
Saat kebakaran terjadi, dampaknya langsung terasa. Akses sempit membuat mobil pemadam tidak bisa masuk optimal.
Petugas terpaksa menarik selang dari jarak jauh, sementara api cepat membesar di antara bangunan yang berhimpitan.
Padahal, menurut warga, wacana pelebaran jalur alternatif yang menghubungkan Jalan Gatot Subroto dan Jalan Lambung Mangkurat sudah muncul sejak lama, bahkan sejak era Wali Kota Samarinda, Achmad Amins.
“Sudah dari zaman bahari itu rencana pelebaran, tapi sampai ini kada jua jadi. Padahal kami di sini sudah sering kejadian kebakaran,” ujar Rahman, warga setempat.
Siti, warga lainnya, menilai kondisi jalan yang menyempit sangat berbahaya saat kondisi darurat. Ia mengaku warga hanya bisa pasrah ketika api mulai membesar.
“Mun lagi kebakaran, kami ini panik banar. Jalan sempit, damkar lambat masuk. Harusnya dari dulu sudah dibuka jalannya,” ucapnya.
Hal senada disampaikan Amat, pedagang di kawasan tersebut. Ia menyebut kepadatan aktivitas ekonomi justru tidak diimbangi dengan penataan akses yang memadai.
“Di sini rame terus, dari pagi sampai malam. Tapi jalannya tetap itu-itu aja. Mun kada dibenahi, tiap kejadian pasti ulang lagi,” katanya.
Di sisi lain, Pemkot Samarinda saat ini memang tengah mendorong pembangunan konektivitas kawasan pusat kota.
Namun, upaya tersebut belum menyentuh langsung persoalan gang-gang padat seperti Gang Masjid, yang justru menjadi titik rawan karena kepadatan bangunan dan keterbatasan akses.
Dalam satu dekade terakhir, kawasan ini berulang kali dilanda kebakaran. Masalahnya pun tetap sama: permukiman padat, akses sempit, dan penanganan darurat yang terhambat.
Kebakaran terbaru ini kembali menegaskan satu hal. Wacana pelebaran jalan yang sudah muncul sejak lama belum pernah benar-benar diwujudkan.
Di tengah risiko yang terus berulang, warga berharap pemerintah tidak lagi berhenti pada rencana, tetapi mulai mengambil langkah konkret untuk membuka akses yang lebih aman di kawasan padat seperti Gang Masjid. (RED)






