HARIANKALTIM.COM –
Saban tahun pungutan acara perpisahan selalu dikeluhkan. Padahal, ada sekolah yang cukup menggelar pelepasan siswa di halaman, bersalaman, lalu pulang membawa kenangan.
Namun, ada pula yang merasa perpisahan belum sah tanpa tenda besar, dekorasi gemerlap, fotografer profesional, medali alumni, hingga panggung bak konser dangdut tahun baru.
Lain sekolah, lain pula nominalnya. Ada Rp200 ribu. Ada Rp350 ribu. Ada Rp360 ribu. Bahkan ada yang tembus jutaan rupiah. Kalau terus begini, mungkin tahun depan brosurnya sekalian memakai paket wedding organizer: silver, gold, platinum.
Ironisnya, hampir semua memakai kalimat yang mirip. “Ini hasil kesepakatan.” “Tidak wajib.” “Sekolah hanya memfasilitasi.” Kalimat-kalimat yang terdengar halus, tetapi cukup ampuh membuat wali murid mendadak rajin mengecek saldo rekening.
Padahal surat edarannya jelas. Disdikbud Kaltim maupun kabupaten/kota sudah mengingatkan agar kegiatan perpisahan dilakukan sederhana dan tidak membebani orang tua. Bahkan ancaman sanksi juga disebut terang-terangan.
Namun di lapangan, kreativitas memang tidak pernah mati. Ketika pungutan dilarang, muncullah istilah “sukarela.” Ketika sekolah tidak boleh menarik uang, lahirlah paguyuban. Ketika diprotes, muncullah rapat musyawarah.
Pendidikan kita rupanya sangat sukses mengajarkan adaptasi. Yang paling menarik tentu kalimat klasik: “Kalau tidak ikut, kasihan anaknya.”
Nah, di titik itu, sukarela berubah rasa. Sebab dalam praktiknya, wali murid sering berada di persimpangan yang rumit. Mau menolak, takut anak merasa dikucilkan. Mau protes, khawatir dicap pelit. Akhirnya banyak yang memilih diam sambil menghela napas panjang tiap kali grup WhatsApp kelas berbunyi.
Lucunya lagi, semua ini terjadi di tengah jargon pendidikan karakter dan empati sosial. Anak diajarkan hidup sederhana, tetapi perpisahan dibuat seperti festival tahunan. Murid diminta fokus ujian, orang tua fokus mencari uang tambahan.
Lebih unik lagi, setelah ramai diberitakan, beberapa sekolah mendadak berubah hemat. Ada yang membubarkan panitia, ada yang mengembalikan uang, ada yang mengubah acara menjadi upacara sederhana di halaman sekolah.
Ternyata kesederhanaan memang bisa dilakukan. Hanya saja kadang perlu viral dulu.
Pada akhirnya, perpisahan sekolah semestinya menjadi momen melepas siswa dengan hangat, bukan ajang adu gengsi yang diam-diam menguras isi dompet wali murid.
Sebab kenangan terbaik dari sekolah bukan terletak pada megahnya panggung perpisahan, melainkan pada pelajaran yang bermanfaat setelah lampu aula dimatikan. (RED)







