Gudang Jamu Ilegal di Karang Asam Digerebek, Barang Bukti Hampir Satu Miliar

Gudang Jamu Ilegal di Karang Asam Digerebek, Barang Bukti Hampir Satu Miliar

HARIANKALTIM.COM – Polresta Samarinda bersama Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Samarinda membongkar kasus peredaran obat tradisional atau jamu ilegal senilai Rp837 juta atau hampir satu miliar rupiah.

Kapolresta Samarinda Kombes Pol Ary Fadli mengungkapkan kasus tindak pidana bidang kesehatan ini melibatkan tersangka berinisial MA.

“Kami berhasil mengamankan tersangka beserta barang bukti berupa 72 macam obat tradisional ilegal, uang tunai Rp134 juta, satu unit handphone, dan satu unit sepeda motor,” kata Ary Fadli dalam konferensi pers di Mapolresta Samarinda, Senin (11/09/2023).

Kapolresta yang didampingi Kepala BBPOM Samarinda Sem Lapik, menjelaskan, penangkapan tersangka berawal dari operasi intensifikasi pengawasan obat tradisional dan suplemen kesehatan ilegal dan/atau mengandung bahan kimia obat.

“Operasi ini dilakukan bersama Balai Besar POM Samarinda pada 29 Agustus, di depot jamu dan gudang milik tersangka yang beralamat di Jalan Untung Suropati, RT 25, Kelurahan Karang Asam Ulu, Kecamatan Sungai Kunjang, Kota Samarinda,” sebut Ary Fadli.

Disampaikannya, dari hasil penyelidikan, Kepolisian mengetahui bahwa tempat tersebut merupakan agen obat tradisional tanpa izin edar/ilegal dan tidak memiliki perizinan berusaha.

Menurutnya, obat tradisional ilegal yang disita dari tempat tersebut dengan taksiran nilai ekonomi sebesar Rp702 juta.

Ia mengatakan, obat-obat tradisional tersebut diseduh dan dibeli langsung di depot jamu.

Selain itu, jamu tersebut dijual secara partai besar dan disimpan di gudang.

“Kami juga menemukan uang tunai sebesar Rp134 juta yang diduga merupakan hasil dari transaksi mengedarkan obat tradisional ilegal tersebut. Sehingga perkiraan total nilai ekonomi di sarana tersebut adalah Rp 837 juta,” tuturnya.

Ary Fadli menambahkan, tersangka dijerat dengan pasal 197 juncto pasal 106 ayat 1 dan 2 Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan sebagaimana yang telah diubah dengan Pasal 60 poin ke-10 juncto Pasal 60 poin ke-4 Undang-Undang No. 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2022 menjadi Undang-Undang.

“Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi berupa obat tradisional yang tidak memiliki perizinan berusaha dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan pidana denda paling banyak Rp1,5 miliar,” kata Ary Fadli.

Ia mengimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati dalam mengonsumsi obat tradisional dan suplemen kesehatan yang tidak memiliki izin edar resmi dari BPOM.

Kapolresta juga mengajak masyarakat untuk melaporkan kepada pihak berwenang jika menemukan adanya peredaran obat tradisional ilegal.

“Saya mengapresiasi kerja sama antara Balai Besar POM di Samarinda dan Satreskrim Polresta Samarinda dalam mengungkap kasus ini,” pungkasnya sebagaimana dilansir Antara. (RED)

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0821-522-89-123 atau email: hariankaltim@ gmail.com