HARIANKALTIM.COM — Setelah anggaran perbaikan bernilai puluhan miliar rupiah digelontorkan, kondisi Jalan Nasional KM 28 Batuah, Kecamatan Loa Janan, kembali menunjukkan kegagalan struktural.
Badan jalan di titik tersebut kembali amblas, memunculkan pertanyaan serius mengenai kwalitas pekerjaan dan efektivitas penanganan teknis yang dilakukan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional.
Fakta amblasnya kembali KM 28 Batuah menjadi sorotan tajam karena sebelumnya BBPJN Kaltim secara terbuka mengklaim telah menuntaskan penanganan longsor di ruas tersebut dengan biaya sekitar Rp20 miliar.
Anggaran besar itu disebut digunakan untuk memastikan stabilitas badan jalan dan menjamin keselamatan pengguna jalur utama Samarinda–Balikpapan.
Namun pantauan di lapangan memperlihatkan kondisi berbanding terbalik dengan klaim tersebut. Permukaan jalan kembali turun tidak merata.
Retakan memanjang tampak jelas di sisi badan jalan. Kendaraan bertonase besar melintas dengan kecepatan rendah demi menghindari risiko kecelakaan, terutama saat hujan dan malam hari.
Dalam publikasi sebelumnya, BBPJN Kaltim menjelaskan bahwa penanganan teknis di KM 28 Batuah dilakukan melalui sejumlah metode, antara lain retrase jalan, pembangunan dan perbaikan drainase, serta pengaspalan ulang.
Seluruh rangkaian pekerjaan itu diklaim sebagai solusi penanganan longsor dan tanah bergerak di lokasi rawan tersebut.
Amblasnya kembali badan jalan di titik yang sama memunculkan pertanyaan mendasar: apakah metode teknis yang diterapkan sudah sesuai dengan karakter tanah di KM 28 Batuah, ataukah pekerjaan dilakukan tanpa perhitungan jangka panjang terhadap risiko geoteknik?
Warga sekitar menyebut kondisi tanah di kawasan itu masih labil. Saat hujan deras, air kerap merembes ke bawah struktur jalan.
Di sisi lain, arus kendaraan berat tetap tinggi tanpa pembatasan beban yang ketat. Faktor-faktor ini dinilai belum terjawab secara tuntas dalam proyek perbaikan sebelumnya.
Reaksi publik di media sosial mengeras. Banyak netizen menyoroti kontras antara besarnya anggaran perbaikan dan hasil di lapangan.
Penanganan dinilai bersifat sementara dan berulang, sementara kerusakan struktural terus muncul dalam rentang waktu yang relatif singkat.
Sebagai jalan nasional yang menopang arus logistik dan mobilitas antarwilayah, setiap kegagalan struktur di KM 28 Batuah berdampak luas.
Karena itu, muncul desakan agar dilakukan audit teknis menyeluruh terhadap proyek perbaikan bernilai puluhan miliar rupiah tersebut, termasuk membuka data kajian geoteknik, desain teknis, mutu material, serta sistem drainase yang digunakan.
Hingga berita ini disusun, BBPJN Kaltim belum memberikan penjelasan resmi terkait penyebab amblas ulang di KM 28 Batuah, maupun klarifikasi apakah kerusakan terbaru ini masih berada dalam ruang lingkup tanggung jawab proyek penanganan sebelumnya.
Di lapangan, langkah yang terlihat masih sebatas pengamanan lalu lintas dan pembatasan jalur. (RED)







