Anwar Chanani Berpulang

Rintik hujan mewarnai pemakaman Anwar Chanani. Pertanda seakan langit ikut menangisi kepergian sang tokoh pendidikan di Kaltim itu. Ya, Anwar Chanani mengakhiri hidup di usia 90 tahun. Jasadnya di makamkan di Taman Makam Pahlawan Kesuma Bangsa, Samarinda.

Isak tangis mewarnai suasana rumah duka di Jalan A Whab Syahranie, Minggu (22/01/2017) sore. Pagi di hari sebelumnya, tidak ada yang menduga raga yang semula sehat itu mendadak lemah.

Salah seorang keluarga Anwar yang enggan disebutkan namanya menyebutkan, Sabtu (21/01/2016), almarhum dalam keadaan sehat. “Kondisi fisiknya sehat menurut dokter. Tapi paginya langsung sakit tidak berdaya. Akhirnya diketahui almarhum sudah tidak bernafas sekitar pukul 09.00,” katanya.

Almarhum semula berada di kediamannya di JaIan Kadrie Oening. Kediaman itu pun berubah seketika menjadi rumah duka. Sekitar pukul 12.15 selepas shalat dzuhur almarhum dishalatkan di salah satu masjid terdekat. Namun hujan mendadak turun dan mengakibatkan sepanjang Jalan Kadrie Oening terendam air. Kendaraan tidak bisa lewat.

Alhasil jenazah sempat tertahan di mesjid lantaran kendaraan tidak bisa masuk. “Jadi mobil ditaruh di sana, di dekat bank. Jarak mesjid dengan bank sekitar 100-an meter. Jenazah harus digotong ke mobil, soalnya mobil tidak bisa lewat karena banjir,” terang perempuan paruh baya ini.

Sekitar pukul 13.00 jenazah pun diarak menuju ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kesuma Bangsa di Jalan Pahlawan. Lagi-lagi dengan kondisi hujan deras. Meski demikian prosesi pemakaman tetap berjalan sebagaimana mestinya. Rombongan keluarga yang mengantarkan jenazah ke persemayaman terakhir tiba sekitar pukul 18.17 Wita. Ketelambatan itu lantaran banjir yang mendera ibu kota.

Heru Bambang, anak sulung datang mengenakan baju koko putih yang kotor oleh tanah, disusul sejumlah kerabat dan keluarga lainnya. Kepada Sapos, Heru mengaku ikhlas dengan kepergian almarhum. “Akhir-akhir ini bapak tidak bisa apa-apa, ngomong juga sangat sulit. Jadi kami sekeluarga mengikhlaskan saja. Daripada bapak sengsara tusuk sana tusuk sini,” katanya melemah.

Wakil Wali Kota Balikpapan periode 2013-2016 ini menuturkan kalau almarhum memiliki dedikasi di bidang pendidikan. Bukti dedikasi itu adalah keterlibatan almarhum sebagai pemrakarsa berdirinya Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Samarinda yang kini telah berubah nama menjadi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

riwayat

Bahkan Anwar pernah menjadi direktur APDN Samarinda pada 1963 hingga 1972. Jabatan akademik itu justru kembali mengantarkan Anwar ke bidang pemerintahan dengan menjadi Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kaltim periode 1972 hingga 1984. Sampai akhirnya Anwar menjadi staf ahli gubernur periode 1984-1986 setelah akhirnya pensiun sebagai PNS.

Tidak cukup sampai itu, almarhum pun menjadi pemrakarsa berdirinya Universitas Mulawarman (Unmul). “Itu yang membuat saya bangga. Almarhum bilang tidak bisa tinggalkan harta, tapi cukup ilmu. Karena bapak membangun manusianya. Jangan sampai orang luar yang datang membawa ilmu tapi kita di dearah ditelantarkan,” kata Heru.

Pentingnya pendidikan juga diterapkan almarhum di keluarga. Heru pun mengenang kerap dipukul ayahandanya lantaran enggan mengaji. “Oh, sering dimarahi. Pada saat mengaji dan belajar. Zaman dulu kan begitu, mungkin karena saya terlalu nakal,” senyumnya.

“Saya pernah disuruh angkat kaki satu sebagai hukuman. Tapi itu yang membentuk saya. Kalau enggak begitu saya enggak bisa jadi panutan bagi adik-adik saya,” kenang mantan Sekkot Balikpapan ini. Kini almarhum sudah beristirahat dengan tenang. Heru berharap ke depan, Anwar-Anwar muda akan bisa menghiasi pendidikan di Kaltim. (*)

Bagaimana menurut Anda? Tulis pendapatmu di kolom komentar

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *