HARIANKALTIM.COM – Kalimantan Timur masuk dalam tujuh provinsi dengan risiko sangat tinggi terhadap dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau 2026.
Untuk melindungi kelompok usia sekolah dari paparan asap, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyiapkan regulasi pembelajaran daring di wilayah dengan kualitas udara kategori tidak sehat berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, dr. Then Suyanti, mengatakan surat edaran terkait opsi pembelajaran jarak jauh tersebut masih diproses dan diharapkan segera diterbitkan.
Langkah itu dinilai penting karena asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, dan senyawa beracun yang dapat memicu ISPA, memperburuk asma, serta meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Berdasarkan data hingga 25 Agustus 2026, sekitar 3,4 juta penduduk di tujuh provinsi berisiko tinggi telah terdampak kabut asap karhutla, termasuk Kaltim.
Selain menyiapkan opsi sekolah daring, pemerintah berkoordinasi dengan daerah untuk memperkuat layanan kesehatan, membagikan masker, dan memberikan edukasi kepada masyarakat.
Warga Kaltim juga diimbau rutin memantau ISPU, mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, serta menutup pintu dan jendela rumah agar asap tidak mudah masuk. Penggunaan masker dianjurkan saat harus beraktivitas di luar.
Bagi warga yang mengalami batuk, sesak napas, iritasi mata, atau keluhan pernapasan lainnya, Kemenkes meminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Di tengah kemungkinan pembelajaran dari rumah, orang tua siswa juga meminta agar iuran kelas dihentikan atau ditangguhkan sementara selama kegiatan belajar tatap muka tidak berjalan.
Permintaan itu dinilai perlu diperhatikan sekolah agar tidak menambah beban keluarga selama kondisi kabut asap belum membaik. (RED)






