HARIANKALTIM.COM – Persoalan kewajiban membeli buku pelajaran kembali memicu keluhan orang tua murid pada awal tahun ajaran baru ini.
Masalah klasik yang rutin muncul tiap tahun tersebut kembali terulang, di mana para wali murid dibebani tagihan buku hingga jutaan rupiah.
Aduan tersebut mencuat setelah salah satu wali murid di Samarinda membagikan rincian harga buku penunjang untuk siswa kelas 6 SD.
Informasi penjualan buku itu sebelumnya disampaikan melalui pengumuman di grup WhatsApp.
Dalam pengumuman tersebut, terdapat 11 mata pelajaran yang ditawarkan dengan label “stok terbatas”.
Rincian harganya meliputi IPAS Rp152.000, Bahasa Indonesia Rp149.000, Matematika Rp132.000, Basic English Rp125.000, dan PJOK Rp122.000.
Selanjutnya, buku Pancasila dibanderol Rp112.000, Seni Rupa Rp92.000, serta Bahasa Daerah Rp82.000.
Sementara tiga mata pelajaran lainnya masing-masing dijual seharga Rp50.000.
Jika diakumulasikan, total biaya yang harus dikeluarkan orang tua murid untuk membeli paket buku tersebut mencapai Rp1.116.000.
Para orang tua mengaku keberatan karena pengeluaran untuk kebutuhan sekolah terus menumpuk dalam waktu singkat.
Keterangan “stok terbatas” pada pesan di grup WhatsApp juga dinilai memicu kekhawatiran, sehingga wali murid merasa terdesak untuk segera membeli agar anak tidak ketinggalan pelajaran.
Kondisi ini memicu pertanyaan mengenai status buku yang ditawarkan, apakah wajib dalam proses belajar mengajar atau sekadar pendamping.
Selain itu, mekanisme pengadaannya juga belum jelas, apakah dikelola langsung oleh sekolah, koperasi, atau pihak ketiga. (RED)






