HARIANKALTIM.COM – Warga Samarinda dan Balikpapan, dua kota besar di Kalimantan Timur, saat ini tengah dihebohkan masalah kualitas bahan bakar Pertamax yang diduga tercemar.
Meskipun keluhan ini baru sekarang menjadi sorotan publik, ternyata masalah terkait kualitas BBM ini sudah muncul jauh sebelumnya, sejak 2024 lalu.
Warga di kedua kota melaporkan kerusakan pada kendaraan yang diduga disebabkan oleh Pertamax yang tercemar atau kotor.
Beberapa pengendara di Samarinda dan Balikpapan membagikan pengalaman buruk mereka di media sosial.
Sejumlah kendaraan, baik roda empat maupun roda dua, mengalami masalah serius setelah mengisi Pertamax.
Keluhan yang paling sering terdengar adalah mesin kendaraan yang tiba-tiba mati, kehilangan tenaga, bahkan beberapa mobil dan motor harus dibawa ke bengkel untuk perbaikan.
“Samarinda begini juga kah? Motorku habis isi Pertamax enggak lama kayak gitu, enggak nyaman kalau dibawa jalan. Mana susah kalau mau nyalain,” tulis seorang netizen dalam postingannya.
Keluhan serupa juga datang dari pengendara lainnya yang merasa kecewa dengan kualitas Pertamax.
Mereka merasa dirugikan karena kendaraan yang rusak tidak hanya menguras biaya perbaikan, tetapi juga mengganggu aktivitas sehari-hari mereka.
Tak sedikit yang merasa kecewa karena merasa sudah membeli produk premium dengan harapan mendapatkan kualitas terbaik, namun malah mengalami masalah yang merugikan.
Pertamina, meskipun telah melakukan uji sampel Pertamax dari beberapa SPBU di Samarinda dan Balikpapan, tetap menegaskan bahwa kualitas BBM mereka masih sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas).
Namun, pihak Pertamina juga mengakui bahwa kendala mesin hanya terjadi pada jenis kendaraan tertentu dan di lokasi-lokasi tertentu.
Heppy Wulansari, Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, mengatakan bahwa perusahaan masih melakukan kajian lebih lanjut dengan menggandeng lembaga-lembaga seperti LAPI ITB dan Lemigas untuk meneliti kemungkinan adanya sedimen atau masalah lain dalam BBM yang bisa memengaruhi kendaraan tertentu.
“Kami masih melakukan kajian terkait masalah ini, mengingat gangguan hanya terjadi pada jenis kendaraan tertentu dan di beberapa lokasi. Kami akan terus memonitor dan mencari penyebab yang lebih mendalam,” jelas Heppy.
Di sisi lain, pihak kepolisian di Kota Samarinda telah memeriksa sejumlah SPBU. Namun belum ditemukan bukti kuat yang mengaitkan kualitas BBM sebagai penyebab utama kerusakan kendaraan.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, juga turun tangan dengan menginstruksikan dinas terkait untuk mengambil sampel BBM di beberapa SPBU guna memastikan kebenaran dugaan kontaminasi.
“Kami akan ambil sampel untuk memastikan benar atau tidak. Nanti saya arahkan Asisten II untuk menangani ini,” ujar Andi Harun.
Masyarakat tentu berharap pihak berwenang segera mengidentifikasi penyebab pasti masalah ini dan mengambil langkah preventif untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada kendaraan. (RED)







