HARIANKALTIM.COM – Tampuk kepemimpinan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Samarinda resmi berganti.
Puang Dirham, A.Md.I.P., S.Sos., M.M., resmi menjabat sebagai Kepala Lapas (Kalapas) Narkotika Samarinda menggantikan pejabat lama dalam prosesi Serah Terima Jabatan (Sertijab) yang berlangsung khidmat pada Sabtu (18/04/2026).
Meski disambut dengan optimisme, kepemimpinan Puang Dirham di “Kota Tepian” ini dipastikan tidak akan mudah.
Sejumlah Pekerjaan Rumah (PR) besar telah menanti mantan Kalapas Nunukan ini, terutama dalam membenahi citra dan stabilitas keamanan di salah satu Lapas narkotika paling padat di Kalimantan Timur.
PR pertama dan yang paling krusial adalah memutus jaringan remote control atau pengendalian narkoba dari dalam sel.
Berdasarkan catatan Kepolisian dan BNN sepanjang awal tahun 2026, sejumlah pengungkapan kasus sabu di Samarinda masih kerap menyeret nama warga binaan di dalam Lapas Narkotika.
Akses komunikasi ilegal (ponsel) menjadi celah utama yang harus ditutup.
Publik menanti apakah Puang Dirham akan membawa ketegasan yang sama saat ia memimpin Lapas Nunukan, di mana ia sempat melakukan sidak ponsel secara masif hingga ke level petugas untuk mencegah praktik judi online dan transaksi gelap.
Kondisi Lapas Narkotika Samarinda yang mengalami overcapacity hingga lebih dari 100 persen menjadi tantangan integritas tersendiri.
Per 9 April 2026, Lapas ini dihuni oleh lebih dari 750 warga binaan, jauh melampaui kapasitas idealnya.
Kepadatan ini seringkali menjadi ladang subur bagi oknum untuk melakukan praktik pungutan liar (pungli), mulai dari pengurusan fasilitas kamar hingga layanan remisi.
Rekam jejak Puang Dirham saat menjabat Karutan Tanjung Redeb (Berau) yang pernah diterpa isu miring mengenai dugaan pemerasan oleh oknum anak buahnya—meski telah dibantah tegas—menjadi pengingat pentingnya pengawasan internal yang lebih ketat di Samarinda.
Insiden kaburnya narapidana WNA saat menjalani perawatan medis di luar Lapas pada Februari 2024 di Nunukan menjadi catatan evaluasi penting bagi SOP pengamanan di bawah kendali Puang Dirham.
Di Samarinda, dengan risiko gangguan keamanan yang lebih tinggi, celah sekecil apapun dalam pengawalan luar dapat berakibat fatal.
Dalam keterangannya, Puang Dirham menyatakan komitmennya untuk melanjutkan program-program baik yang telah berjalan serta membawa inovasi baru dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan pembinaan. (RED)






