HARIANKALTIM.COM – Tragedi tenggelamnya kapal feri rute Balikpapan–Penajam kembali menyita perhatian publik. Kapal yang diketahui bernama KMP Muchlisa itu menuai kritik tajam dari masyarakat karena dianggap sudah terlalu tua dan tidak layak beroperasi.
Insiden ini menambah deretan keluhan terhadap sistem pengawasan pelayaran yang dinilai longgar dan sarat pembiaran.
Menurut data teknis, KMP Muchlisa merupakan kapal jenis Ro-Ro / Kapal Penumpang dengan Nomor IMO 7930462. Dibuat pada 1980 oleh galangan Wakamatsu Shipbuilding Co. Ltd di Jepang, menjadikannya berusia lebih dari 44 tahun saat insiden ini terjadi.
Kapal sepanjang 44,4 meter dengan lebar 12 meter ini memiliki DWT 211 ton dan digerakkan oleh dua unit mesin Daihatsu Diesel masing-masing berkekuatan 750 HP.
Kapal ini dioperasikan oleh PT Pelayaran Sadena Mitra Bahari yang beralamat di Jalan Markoni No 2B Balikpapan.
Meski berusia lanjut, kapal ini masih terus dioperasikan. Hal ini menuai respons keras dari masyarakat. Salah satu warganet menyebut, “Kapal feri emang udah tua, udah waktunya dijadikan besi tua.”
Pengguna lain mempertanyakan proses penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) oleh Syahbandar tanpa inspeksi menyeluruh. “Kok bisa SPB terbit tanpa periksa kondisi kapal? Apakah masih layak berlayar atau tidak?” tulisnya dalam komentar.
Ada pula komentar yang menyebut bahwa faktor alam bukan penyebab utama. “Teluk itu tidak ada gelombang tinggi atau angin kencang. Investigasinya harus terang benderang agar diketahui umum dan tidak terulang lagi,” kata seorang pengguna Instagram.
Kritik keras juga diarahkan pada kondisi armada. “Sebagian besar kapal feri penyeberangan itu sudah tua semua, 90% adalah kapal lama dan bekas. Kropos iya, cuma dicat-cat seperti baru lagi, padahal bagai bom waktu yang siap memakan korban.”
Desakan agar segera dibuka infrastruktur alternatif seperti jembatan juga kembali mencuat. “Sudah waktunya Jembatan Pulau Balang dibuka untuk umum,” tulis seorang komentar lain, yang disambut dengan sindiran getir, “Mungkin harus tunggu banyak korban dulu.”
HarianKaltim.com, Rabu (07/05/2025), telah menghubungi nomor telepon dan WhatsApp PT Pelayaran Sadena Mitra Bahari untuk mendapatkan konfirmasi lebih lanjut terkait insiden ini, namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada respons.
Begitu pula, upaya untuk menghubungi Humas KSOP Balikpapan via nomor WhatsApp resminya, juga belum membuahkan hasil. (RED)







