HARIANKALTIM.COM — Polemik seputar proyek Pembangunan Jembatan Sebulu Tahap 2 di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus menggelinding.
Setelah sebelumnya PT Lestari Nauli Jaya dilaporkan ke kejaksaan terkait dugaan penggunaan dokumen pengalaman kerja yang diduga palsu, kini muncul isu baru mengenai dugaan praktik “pinjam bendera” dalam proyek bernilai Rp136,35 miliar tersebut.
Dari sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan, PT Lestari Nauli Jaya diduga hanya dipinjam oleh seorang pengusaha, Haji Y.
“Itu dipinjam Haji Y***. Cuma dia tidak mengaku waktu saya tanya. Tapi kenalan saya yang mengetahui informasi proyek itu justru membenarkannya,” ujar salah satu sumber kepada Hariankaltim.com, Senin (18/05/2026).
Kenalannya yang dimaksud merupakan salah satu petugas di instansi yang kerap bersinggungan dengan proyek-proyek pemerintah.
Nama Haji Y sendiri dikenal sebagai kontraktor yang kerap memenangi proyek infrastruktur bernilai besar, khususnya di wilayah Kota Samarinda, namun kini bergeser ke Kukar.
Istilah “pinjam bendera” jamak digunakan dalam dunia pengadaan barang dan jasa untuk menggambarkan penggunaan legalitas perusahaan lain sebagai syarat formal tender, sementara pemodalan dan eksekusi lapangan dilakukan oleh pihak ketiga.
Meski demikian, hingga saat ini dugaan tersebut baru sebatas informasi sepihak dan belum ada pembuktian resmi atau putusan hukum yang menyatakan adanya pelanggaran dalam proses tersebut.
Sebelumnya, Lembaga Swadaya Masyarakat Suara Arus Bawah (LSM SAB) resmi melaporkan PT Lestari Nauli Jaya ke Kejaksaan Negeri Kukar.
Mereka mempersoalkan dokumen pengalaman kerja pada proyek Jembatan Klamono di Kabupaten Sorong, Papua, yang jejak digitalnya tidak ditemukan dalam penelusuran LPSE maupun pengadaan barang dan jasa daerah setempat.
Dalam laporannya, LSM SAB turut menyertakan bukti tangkapan layar percakapan yang diklaim berasal dari pihak pengadaan barang dan jasa Kabupaten Sorong. Dalam percakapan tersebut, kontrak yang dipersoalkan diindikasikan “palsu”.
Hariankaltim.com juga telah melakukan penelusuran, namun belum ditemukan data resmi mengenai proyek dengan nilai dan rincian sebagaimana yang tercantum dalam dokumen kerja PT Lestari Nauli Jaya.
Media ini telah berupaya melakukan konfirmasi melalui nomor kontak resmi perusahaan, namun belum mendapatkan tanggapan. (RED)






