Cerita Pengalaman Pahit Bupati Kukar Dengan Ujian Nasional

Cerita Pengalaman Pahit Bupati Kukar Dengan Ujian Nasional

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

Ujian Nasional (UN) menjadi salah satu penentu kelulusan siswa, baik di jenjang sekolah dasar (SD) sampai ke tingkat SMA/SMK atau sederajat. Padahal, Ujian Nasional tidak bisa dijadikan satu-satunya penentu kelulusan siswa saat mengenyam pendidikan di sekolah.

Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari rupanya punya pengalaman pahit dengan UN. Kisah singkat ini ia tuturkan saat ditemui beberapa hari lalu dalam perayaan acara puncak Hari Guru Nasional di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat.

Rita menceritakan pengalamannya dulu bersama sang kakak yang sama-sama juara kelas, namun karena satu hambatan, nilai UN yang didapatnya menjadi kurang memuaskan. “Saya dan kakak saya itu sama-sama juara kelas, tiba-tiba ketika akan Ujian Nasional (UN), kakak saya sakit. Dan karena dia sakit, hasil UN itu pun tidak memuaskan,” ujarnya.

Menurutnya, kemampuan seorang anak didik tidak bisa dilihat hanya dari ujian yang berlangsung beberapa hari tersebut. “Enggak bisa dilihat dari tiga hari ujian nasional saja,” imbuhnya. Dengan adanya moratorium Ujian Nasional (UN) ini, Rita mengaku setuju. “Kalau memang UN itu dihapus, saya setuju,” tambahnya.

Ia menuturkan, banyak hal lain yang bisa menjadi acuan dalam penilaian siswa. “Bagi saya menilai itu bukan hanya dari kemampuan akademik, seperti UN. Tapi juga bisa dilihat dari sikap anak tersebut, seperti disiplinnya atau sikapnya kepada orang lain,” ungkapnya. (*)

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0821-522-89-123 atau email: hariankaltim@ gmail.com