banner 728x90

Prediksi BMKG Ungkap Potensi Perbedaan Awal Ramadhan, NU – Muhammadiyah Serukan Saling Menghormati

Prediksi BMKG Ungkap Potensi Perbedaan Awal Ramadhan, NU - Muhammadiyah Serukan Saling Menghormati

HARIANKALTIM.COM – Awal Ramadhan tahun ini diperkirakan akan terjadi perbedaan antara pemerintah dan Muhammadiyah.

Hal ini terungkap dari prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Koordinator Bidang Tanda Waktu BMKG, Himawan Widiyanto menjelaskan, keterlihatan hilal pada Minggu (10/03/2024), bertepatan dengan 29 Syakban 1445 H, masih sangat kecil.

“Dari peta ketinggian hilal dapat dilihat bahwa keterlihatan hilal pada tanggal 10 Maret 2024 sangat kecil sekali dikarenakan ketinggiannya masih di bawah nol derajat,” ujar Himawan, Jumat (23/02/2024), dikutip dari Kompas.com.

Diketahui, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1445 hijriah pada Senin, 11 Maret 2024.

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) masih akan melakukan sidang isbat pada Minggu, 10 Maret 2024.

Ketua Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU), Sirril Wafa menyatakan hilal tidak mungkin dapat dirukyat pada 29 Sya’ban 1445 H atau Minggu, 10 Maret 2024.

“Untuk awal Ramadhan tahun ini, dengan memperhatikan posisi hilal baik tinggi maupun elongasinya, secara pengalaman atau tajribah, hilal tak mungkin dapat dirukyat pada Ahad sore 10 Maret,” kata Sirril mengutip laman resmi NU, Minggu (25/02/2024).

Ia menjelaskan berdasar perhitungan tersebut, 1 Ramadhan 1445 H diprediksi jatuh pada 12 Maret 2024.

“Jadi langkah ikmal/istikmal Sya’ban sebagaimana tertulis di almanak PBNU sudah benar. Insyaallah fix 1 Ramadhan 1445 H bertepatan dengan 12 Maret 2024 M,” ujar ulama ahli falak ini.

Lembaga Falakiyah PBNU menjelaskan, hilal 29 Sya’ban 1445 H bertepatan dengan Ahad Legi, 10 Maret 2024 M. Data perhitungan falak menunjukkan tinggi hilal 0 derajat 11 menit 25 detik.

Atas potensi perbedaan awal Ramadan itu, Ketua PBNU Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur mengimbau umat saling menghormati.

“Kita juga tetap menghormati pilihan sebagian masyarakat yang berkeinginan untuk berbeda, dengan memakai metode hisab sendiri untuk warganya,” ujar Gus Fahrur kepada wartawan, Minggu (25/02/2024).

Imbauan yang sama juga disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Dadang Kahmad yakin masyarakat tak masalah jika nantinya penetapan awal puasa akan berbeda.

“Dan perbedaan awal atau akhir Ramadan sudah sering terjadi, untuk itu saya yakin masyarakat sudah terbiasa dan tidak ada masalah apa-apa,” kata Dadang ketika dihubungi, Minggu (25/02/2024).

Dadang mengatakan perbedaan memang selalu ada dalam kehidupan manusia. Salah satunya terjadi dalam pemahaman agama.

“Perbedaan itu selalu ada di tiap segi apapun dalam kehidupan manusia juga terjadi dalam pemahaman agama. Ya saling menghormati perbedaan tersebut,” kata dia. (RED)

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0821-522-89-123 atau email: hariankaltim@ gmail.com