Sensor dan Lampu Mahkota II, Wali Kota Ingatkan Kontraktor tak Melenceng dari Target

Jembatan Mahkota II di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, rencananya diresmikan paling lambat Januari 2018, setelah semua fasilitas jembatan siap dan aman, kata Wali Kota Syaharie Jaang.

“Januari mendatang, minimal Jembatan Mahkota II diresmikan oleh Pak Menteri PUPR. Jadi, saya minta kontraktor tidak melenceng dari target penyelesaian pekerjaannya sesuai dengan kontrak,” ujar Syaharie Jaang di Rumah Jabatan Wali Kota, Senin (14/08/2017).

Jaang menyatakan hal itu setelah mendengarkan presentasi dari dua pelaksana pekerjaan, yakni pemasangan alat sensor beban oleh Konsultan Proyek Jembatan Mahkota II dan best partner Philips oleh PT Karya Langgeng Abadi, selaku pemenang lelang lampu jembatan.

Jaang juga mengingatkan untuk komponen alat sensor yang menghabiskan anggaran Rp3,5 miliar dan pencahayaan jembatan dengan nilai kontrak hampir Rp10 miliar supaya betul-betul dibuat aman dari pencurian.

Sementara, Lukman dari PT Karya Langgeng Abadi menyampaikan pemasangan lampu art thematic merupakan perpaduan Jembatan Suramadu dan Busan North Harbor Korea Selatan.

Pemasangannya memakan waktu dua bulan, namun untuk lampunya proses pemesanannya 2-3 bulan.

Saat ini, lampu dan komponen perangkatnya dalam proses pabrikasi di Polandia.

Namun, lanjut Lukman, sambil menunggu proses pabrikasi dan pengiriman akan dilakukan instalasi dan pemasangan lampu PJU selama dua bulan.

“Untuk lampu PJU, hari ini sudah mulai kerja berupa pemasangan pondasi tiang sambil nunggu tiangnya datang. Sedangkan untuk lampu PJU sudah siap,” terang Lukman.

Konsultan Proyek Jembatan Mahkota II Taufik Reynaldi menjelaskan bahwa fungsi dari sensor adalah untuk mengetahui tegangan yang terjadi pada kabel.

“Tim Komisi Keselamatan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) Kementerian PUPR mensyaratkan pemasangan alat sensor pada kabel guna mengetahui secara dini tegangan yang terjadi pada kabel-kabel jembatan, sehingga cepat mengantisipasi jika ada kabel yang mengalami over stress akibat lalu lintas,” kata Taufik.

Untuk alat sensor, lanjutnya, sesuai rekomendasi dari tim KKJTJ menggunakan Elasto Magnetic (EM) Sensor.

EM Sensor memiliki akurasi lebih baik dibandingkan alat sensor lain, bahkan bisa dipasang setelah jembatan selesai dibangun. EM ini juga digunakan di Jembatan Suramadu dan Jembatan Merah Putih di Ambon.

Ia menargetkan pemasangan selesai bulan Oktober karena memakan waktu dua minggu, kemudian uji coba beban dua minggu.

Sedangkan pekerjaan pemasangan dijadwalkan September minggu kedua.

Saat ini alatnya masih dalam pabrikasi di Amerika. EM akan dipasang langsung oleh penemu alat EM Sensor Paul Sumitro PhD dari Smartsensys USA.

Ia menyebutkan, kerja EM Sensor dengan dukungan internet bisa dipantau dari mana saja, baik dari Dinas PUPR Samarinda, dari Balai Kota, Tim KKJTJ maupun oleh Wali Kota.

Bagaimana menurut Anda? Tulis pendapatmu di kolom komentar

You may also like...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *